BAB I. PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA
A. Proses Berakhirnya Kekuasaan Jepang di Indonesia
Menjelang tahun 1945, posisi Jepang dalam Perang Pasifik mulai terjepit.
Jenderal Mac. Arthur, Panglima Komando Pertahanan Pasifik Barat Daya
yang terpukul di Filipina mulai melancarkan pukulan balasan dengan
siasat “loncat kataknya”. Satu per satu pulau-pulau antara Australia dan
Jepang dapat direbut kembali. Pada bulan April 1944 Sekutu telah
mendarat di Irian Barat. Kedudukan Jepang pun semakin terjepit. Keadaan
makin mendesak ketika pada bulan Juli 1944 Pulau Saipan pada gugusan
Kepulauan Mariana jatuh ke tangan Sekutu. Bagi Sekutu pulau tersebut
sangat penting karena jarak Saipan – Tokyo dapat dicapai oleh pesawat
pengebom B 29 USA. Hal itu menyebabkan kegoncangan dalam masyarakat
Jepang. Situasi Jepang pun semakin buruk. Akibat faktor-faktor yang
tidak menguntungkan tersebut, menyebabkan jatuhnya Kabinet Tojo pada
tanggal 17 Juli 1944 dan digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso. Agar
rakyat Indonesia bersedia membantu Jepang dalam Perang Pasifik, maka
pada tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Koiso mengumumkan janji
pemberian kemerdekaan kepada Indonesia di kemudian hari. Janji ini
dikenal sebagai janji kemerdekaan Indonesia.
Sebagai realisasi dari janji kemerdekaan yang diucapkan oleh Koiso, maka
pemerintah pendudukan Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal Kumakici
Harada pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan pembentukan Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI atau
Dokuritsu Junbi Coosakai). Tugas BPUPKI adalah untuk mempelajari dan
menyelidiki hal-hal yang penting yang berhubungan dengan berbagai hal
yang menyangkut pembentukan negara Indonesia merdeka. BPUPKI memiliki
anggota sebanyak 67 orang bangsa Indonesia ditambah 7 orang dari
golongan Jepang. BPUPKI diketuai oleh dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat
dan dibantu oleh dua orang ketua muda yaitu R.P. Suroso dan Ichibangse
dari Jepang. Anggota BPUPKI dilantik pada tanggal 28 Mei 1945 di gedung
Cuo Sangi In, Jalan Pejambon Jakarta (sekarang gedung Departemen Luar
Negeri). Selama masa berdirinya, BPUPKI mengadakan sidang sebanyak dua
kali. Sidang pertama berlangsung antara 29 Mei – 1 Juni 1945 membahas
rumusan dasar negara.
Sidang kedua berlangsung tanggal 10 – 16 Juli 1945 membahas batang tubuh UUD negara Indonesia merdeka.
Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya, BPUPKI dibubarkan pada tanggal 7
Agustus 1945 dan sebagai gantinya dibentuk Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI atau Dokuritsu Junbi Inkai). PPKI diketuai
oleh Ir. Soekarno. Sementara itu, keadaan Jepang semakin terjepit
setelah dua kota di Jepang dibom atom oleh Sekutu. Pada tanggal 6
Agustus 1945 sebuah bom atom yang dijuluki little boy dijatuhkan di kota
Hiroshima dan menewaskan 129.558 orang. Kemudian pada tanggal 9 Agustus
1945 kota Nagasaki dibom atom oleh Sekutu. Akibat kedua kota tersebut
dibom, Jepang menjadi tidak berdaya sehingga pada tanggal 14 Agustus
1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu
B. Arti Penting Sidang-Sidang BPUPKI dan PPKI bagi Persiapan Kemerdekaan dan Pembentukan Negara Indonesia
Setelah Kabinet Tojo jatuh pada tanggal 17 Juli 1944, kemudian diangkat
Jenderal Kuniaki Koiso sebagai perdana menteri yang memimpin kabinet
baru (Kabinet Koiso). Salah satu langkah yang diambil Koiso dalam rangka
untuk mempertahankan pengaruh Jepang di daerah-daerah yang didudukinya
adalah mengeluarkan pernyataan tentang “janji kemerdekaan di kemudian
hari”. Indonesia sebagai daerah pendudukan kemudian diberi janji
kemerdekaan di kelak kemudian hari pada tanggal 7 September 1945. Pada
tahun 1944 itu pula, dengan jatuhnya Pulau Saipan, maka seluruh garis
pertahanan angkatan perang Jepang di Pasifik mulai runtuh. Ini berarti
kekalahan Jepang sudah di ambang pintu. Di wilayah Indonesia angkatan
perang Jepang juga sudah mulai kewalahan menghadapi serangan-serangan
Sekutu atas kota-kota seperti Ambon, Makassar, Manado, Tarakan,
Balikpapan, dan Surabaya.
Menghadapi situasi yang sangat kritis itu, Jepang mencoba merealisasikan
janjinya. Atas usul Letjen Kumakici Harada, Jepang membentuk Badan
Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI/Dokuritsu Junbi
Coosakai) Upacara peresmian anggota BPUPKI dilakukan di gedung Cuo
Sangi In, Jalan Pejambon Jakarta (sekarang gedung Departemen Luar
Negeri). Ikut hadir dalam upacara peresmian tersebut adalah Jenderal
Itagaki dan Letnan Jenderal Nagano. Selama masa tugasnya, BPUPKI
mengadakan sidang dua kali yaitu sidang pertama tanggal 29 Mei – 1 Juli
1945 dan sidang kedua tanggal 10 – 16 Juli 1945. Pada sidang pertama
BPUPKI pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945, ternyata ada tiga pembicara
yang mencoba secara khusus membicarakan mengenai dasar negara. Ketiga
pembicara tersebut adalah Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Supomo, dan
Ir. Soekarno spt pada Tabel 10.1
Tabel 10.1. Rumusan Dasar Negara oleh Para Tokoh
Pada sidang tersebut, Ir. Soekarno juga menyampaikan nama bagi dasar
negara Indonesia yaitu Pancasila, Trisila, atau Ekasila. Ir. Soekarno
memberinya nama Pancasila yang artinya lima dasar. Oleh karena itu
setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.
Setelah sidang resmi pertama, ada masa reses hingga tanggal 10 Juli
1945. Pada masa reses itu, diselenggarakan sidang tidak resmi yang
membahas rancangan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dihadiri oleh
38 anggota BPUPKI. Selanjutnya dibentuk panitia kecil yang
beranggotakan Sembilan orang, sehingga dikenal dengan nama Panitia
sembilan. Anggota Panitia sembilan yaitu: 1. Ir. Soekarno; 2. Drs.
Mohammad Hatta, ;3. Mr. Mohammad Yamin,;4. Mr. Ahmad Subardjo,;5. Mr. A.
A. Maramis,; 6. Abdul Kadir Muzakir,;7. Wachid Hasyim,; 8. H. Agus
Salim, dan; 9. Abikusno Tjokrosujoso.
Panitia Sembilan diketuai oleh Ir. Soekarno dan bertugas menampung
saran-saran, usul-usul, dan konsepsi-konsepsi para anggota. Berikut ini
hasil kerja Panitia Sembilan.
Tabel 10.2 Hasil Kerja Panitia Sembilan
Pada sidang BPUPKI II tanggal 10 – 16 Juli 1945, dibahas tentang
rancangan undang-undang dasar (UUD) yang diserahkan kepada sebuah
panitia. Panitia ini bernama Panitia Perancang UUD yang diketuai oleh
Ir. Soekarno. Panitia ini menyetujui Piagam Jakarta sebagai inti
pembukaan UUD. Selain itu juga dibentuk panitia kecil Perancang UUD 1945
yang diketuai oleh Supomo. Anggota Panitia kecil adalah Wongsonegoro,
Ahmad Subarjo, A.A. Maramis, R.B. Singgih, Sukiman, dan Agus Salim.
Berikut ini hasil kerja panitia kecil yang dilaporkan tanggal 14 Juli
1945.
a. Pernyataan Indonesia Merdeka.
b. Pembukaan Undang-Undang Dasar (Preambul).
c. Undang-Undang Dasar (Batang Tubuh).
Setelah tugas BPUPKI dipandang selesai, BPUPKI dibubarkan. Sebagai
gantinya pada tanggal 7 Agustus 1945 dibentuk Dokuritsu Junbi Inkai atau
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Anggota PPKI berjumlah
21 orang Indonesia yang mewakili berbagai daerah di Indonesia, dan
ditambah 6 orang lagi tanpa sepengetahuan Jepang. PPKI diketuai oleh Ir.
Soekarno dan wakilnya Drs. Moh. Hatta. Sedang sebagai penasihatnya
adalah Mr. Ahmad Subarjo. Tugas PPKI adalah mempersiapkan segala sesuatu
yang dibutuhkan bagi pendirian negara dan pemerintahan RI. Para anggota
PPKI diizinkan melakukan kegiatan menurut pendapat dan kesanggupan
bangsa Indonesia sendiri, tetapi dengan syarat harus memerhatikan
hal-hal berikut ini.
1. Bangsa Indonesia harus mengerahkan tenaga yang sebesar-besarnya dan
bersama-sama dengan pemerintah Jepang meneruskan perjuangan untuk
memperoleh kemenangan dalam Perang Asia Timur Raya.
2. Negara Indonesia itu merupakan anggota Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.
Pada tanggal 9 Agustus 1945. Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr.
Radjiman Wediodiningrat dipanggil oleh Jenderal Terauchi ke Dalath
(Vietnam Selatan). Pada pertemuan tersebut, Jenderal Besar Terauchi
menyampaikan bahwa pemerintah kemaharajaan Jepang telah memutuskan untuk
memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Untuk melaksanakannya
telah dibentuk PPKI. Pelaksanaannya dapat dilakukan segera setelah
persiapan selesai. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah
Hindia Belanda. Selama masa tugasnya, PPKI mengadakan sidang sebanyak
tiga kali yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, 19 Agustus 1945, dan
tanggal 22 Agustus 1945. Lihat tabel 10.3.
Tabel 10.3 Hasil-Hasil Sidang PPKI
PPKI telah selesai melaksanakan tugasnya pada tanggal 22 Agustus 1945,
namun baru dibubarkan pada tanggal 29 Agustus 1945 bersamaan dengan
pelantikan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
C. Perbedaan dan Kesepakatan yang Muncul dalam Sidang-Sidang BPUPKI dan PPKI
Dalam sidang BPUPKI I terdapat dua golongan yang berbeda pendapat. Berikut ini kedua golongan tersebut.
1. Golongan Islam yang menginginkan Indonesia ditegakkan menurut syariat Islam.
2. Golongan Nasionalis yang menginginkan Indonesia ditegakkan berdasarkan paham kebangsaan.
Dalam sidang BPUPKI II muncul perbedaan pendapat mengenai bentuk negara.
Mereka memperdebatkan bentuk negara kerajaan (monarki), negara Islam,
negara federal, dan negara republik. Akhirnya dipilihlah bentuk negara
republik. Pada sidang PPKI juga muncul beberapa perbedaan pendapat
mengenai wilayah negara, pemilihan presiden dan wakil presiden, rumusan
dasar negara, kementerian, serta pembagian daerah. Dalam sidang PPKI,
perdebatan antara golongan nasionalis dan golongan sekuler muncul
kembali. Perbedaan tersebut terutama mengenai sila pertama dalam rumusan
dasar negara.
Golongan Islam menginginkan tetap seperti pada Piagam Jakarta yang
berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
para pemeluknya”. Setelah melalui perdebatan dan demi menjaga persatuan
dan kesatuan bangsa, akhirnya semua golongan menerima sila pertama
berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Penetapan ini memberikan keleluasaan
bagi perbedaan agama dan kepercayaan yang dianutnya.
BAB II. PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI DAN PEMBENTUKAN NKRI
A. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1. Peristiwa Rengasdengklok
Kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik semakin jelas dengan
dijatuhkannya bom atom oleh Sekutu di kota Hiroshima pada tanggal 6
Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibat peristiwa
tersebut, kekuatan Jepang makin lemah. Kepastian berita kekalahan Jepang
terjawab ketika tanggal 15 Agustus 1945 dini hari, Sekutu mengumumkan
bahwa Jepang sudah menyerah tanpa syarat dan perang telah berakhir.
Berita tersebut diterima melalui siaran radio di Jakarta oleh para
pemuda yang termasuk orang-orang Menteng Raya 31 seperti Chaerul Saleh,
Abubakar Lubis, Wikana, dan lainnya. Penyerahan Jepang kepada Sekutu
menghadapkan para pemimpin Indonesia pada masalah yang cukup berat.
Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan (vacuum of power). Jepang masih
tetap berkuasa atas Indonesia meskipun telah menyerah, sementara
pasukan Sekutu yang akan menggantikan mereka belum datang. Gunseikan
telah mendapat perintah-perintah khusus agar mempertahankan status quo
sampai kedatangan pasukan Sekutu. Adanya kekosongan kekuasaan
menyebabkan munculnya konflik antara golongan muda dan golongan tua
mengenai masalah kemerdekaan Indonesia. Golongan muda menginginkan agar
proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan. Mereka itu antara lain
Sukarni, B.M Diah, Yusuf Kunto, Wikana, Sayuti Melik, Adam Malik, dan
Chaerul Saleh. Sedangkan golongan tua menginginkan proklamasi
kemerdekaan harus dirapatkan dulu dengan anggota PPKI. Mereka adalah Ir.
Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. Moh. Yamin, Dr.
Buntaran, Dr. Syamsi dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Golongan muda kemudian
mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di
Pegangsaan Timur, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB.
Rapat tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh yang menghasilkan keputusan
tuntutan-tuntutan golongan muda yang menegaskan bahwa kemerdekaan
Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat
digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan, hubungan dan janji
kemerdekaan harus diputus, dan sebaliknya perlu mengadakan perundingan
dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta agar kelompok pemuda
diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi
Langkah selanjutnya malam itu juga sekitar jam 22.00 WIB Wikana dan
Darwis mewakili kelompok muda mendesak Soekarno agar bersedia
melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya lepas dari
Jepang. Ternyata usaha tersebut gagal. Soekarno tetap tidak mau
memproklamasikan kemerdekaan. Kuatnya pendirian Ir. Soekarno untuk tidak
memproklamasikan kemerdekaan sebelum rapat PPKI menyebabkan golongan
muda berpikir bahwa golongan tua mendapat pengaruh dari Jepang.
Selanjutnya golongan muda mengadakan rapat di Jalan Cikini 71 Jakarta
pada pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945. Mereka membawa
Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Rapat tersebut menghasilkan
keputusan bahwa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta harus diamankan dari
pengaruh Jepang. Tujuan para pemuda mengamankan Soekarno Hatta ke
Rengasdengklok antara lain:
a. agar kedua tokoh tersebut tidak terpengaruh Jepang, dan
b. mendesak keduanya supaya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia terlepas dari segala ikatan dengan Jepang.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 pagi, Soekarno dan Hatta tidak dapat
ditemukan di Jakarta. Mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, di
antaranya Sukarni, Yusuf Kunto, dan Syudanco Singgih, pada malam harinya
ke garnisun PETA (Pembela Tanah Air) di Rengasdengklok, sebuah kota
kecil yang terletak sebelah Utara Karawang. Pemilihan Rengasdengklok
sebagai tempat pengamanan Soekarno Hatta, didasarkan pada perhitungan
militer. Antara anggota PETA Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta
terdapat hubungan erat sejak keduanya melakukan latihan bersama. Secara
geografis, Rengasdengklok letaknya terpencil, sehingga dapat dilakukan
deteksi dengan mudah setiap gerakan tentara Jepang yang menuju
Rengasdengklok, baik dari arah Jakarta, Bandung, atau Jawa Tengah. Mr.
Ahmad Subardjo, seorang tokoh golongan tua merasa prihatin atas kondisi
bangsanya dan terpanggil untuk mengusahakan agar proklamasi kemerdekaan
dapat dilaksanakan secepat mungkin. Untuk tercapainya maksud tersebut,
Soekarno Hatta harus segera dibawa ke Jakarta.
Akhirnya Ahmad Subardjo, Sudiro, dan Yusuf Kunto segera menuju
Rengasdengklok. Rombongan tersebut tiba di Rengasdengklok pukul 17.30
WIB. Peranan Ahmad Subardjo sangat penting dalam peristiwa kembalinya
Soekarno Hatta ke Jakarta, sebab mampu meyakinkan para pemuda bahwa
proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan keesokan harinya paling lambat
pukul 12.00 WIB, nyawanya sebagai jaminan. Akhirnya Subeno sebagai
komandan kompi Peta setempat bersedia melepaskan Soekarno Hatta ke
Jakarta.
2 . Perumusan Naskah Proklamasi
Sekitar pukul 21.00 WIB Soekarno Hatta sudah sampai di Jakarta dan
langsung menuju ke rumah Laksamana Muda Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1
Jakarta untuk menyusun teks proklamasi. Dalam kondisi demikian, peran
Laksamana Maeda cukup penting. Pada saat-saat yang genting, Maeda
menunjukkan kebesaran moralnya, bahwa kemerdekaan merupakan aspirasi
alamiah dan hak dari setiap bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Berikut
ini tokoh-tokoh yang terlibat secara langsung dalam perumusan teks
proklamasi. Lihat tabel 11.1
Tabel 11.1 Tokoh yang Berperan dalam Penyusunan Teks Proklamasi
3 . Pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan
Setelah rumusan teks proklamasi selesai dirumuskan muncul permasalahan,
siapa yang akan menandatangani teks proklamasi? Soekarno mengusulkan
agar semua yang hadir dalam rapat tersebut menandatangani naskah
proklamasi sebagai” Wakilwakil Bangsa Indonesia”. Usulan Soekarno tidak
disetujui para pemuda sebab sebagian besar yang hadir adalah anggota
PPKI, dan PPKI dianggap sebagai badan bentukan Jepang. Kemudian Sukarni
menyarankan agar Soekarno Hatta yang menandatangani teks proklamasi atas
nama bangsa Indonesia. Saran dan usulan Sukarni diterima.
Langkah selanjutnya, Soekarno minta kepada Sayuti Melik untuk mengetik
konsep teks proklamasi dengan beberapa perubahan, kemudian
ditandatangani oleh Soekarno Hatta. Perubahan-perubahan tersebut
meliputi:
a. kata “ tempoh” diubah menjadi tempo,
b. wakil-wakil bangsa Indonesia diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”, dan
c. tulisan “Djakarta, 17-8-’05“ diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05.
Naskah hasil ketikan Sayuti Melik merupakan naskah proklamasi yang
autentik. Malam itu juga diputuskan bahwa naskah proklamasi akan
dibacakan pukul 10.00 pagi di Lapangan Ikada, Gambir. Tetapi karena ada
kemungkinan timbul bentrokan dengan pasukan Jepang yang terus
berpatroli, akhirnya diubah di kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur
No. 56 Jakarta. Sejak pagi hari tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Ir.
Soekarno Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta telah diadakan berbagai
persiapan untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kurang lebih
pukul 09.55 WIB, Drs. Mohammad Hatta telah datang dan langsung menemui
Ir. Soekarno.
Demikianlah teks proklamasi kemerdekaan telah dibacakan oleh Ir.
Soekarno. Susunan acara yang direncanakan dalam pembacaan teks
proklamasi kemerdekaan yaitu:
a. pembacaan proklamasi oleh Ir. Soekarno,
b. pengibaran bendera Merah Putih oleh Suhud dan Latief Hendraningrat, dan
c. sambutan Walikota Suwirjo dan dr. Muwardi.
Untuk mengenang jasajasa Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta dalam peristiwa
proklamasi, maka keduanya diberi gelar Pahlawan Proklamasi
(Proklamator). Selain itu Jalan Pegangsaan Timur diubah namanya menjadi
Jalan Proklamasi, dan dibangun Monumen Proklamasi.
4 . Makna dan Arti Penting Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
1) Dari sudut hukum, proklamasi merupakan pernyataan yang berisi
keputusan bangsa Indonesia untuk menetapkan tatanan hukum nasional
(Indonesia) dan menghapuskan tatanan hukum kolonial.
2 Dari sudut politik ideologis, proklamasi merupakan pernyataan bangsa
Indonesia yang lepas dari penjajahan dan membentuk Negara Republik
Indonesia yang bebas, merdeka, dan berdaulat penuh.
3) Proklamasi merupakan puncak perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
4) Proklamasi merupakan alat hukum internasional untuk menyatakan
kepada rakyat dan seluruh dunia, bahwa bangsa Indonesia mengambil nasib
ke dalam tangannya sendiri untuk menggenggam seluruh hak kemerdekaan.
5) Proklamasi merupakan mercusuar yang menunjukkan jalannya sejarah,
pemberi inspirasi, dan motivasi dalam perjalanan bangsa Indonesia di
semua lapangan di setiap keadaan.
Dengan proklamasi kemerdekaan tersebut, maka bangsa Indonesia telah
lahir sebagai bangsa dan negara yang merdeka, baik secara de facto
maupun secara de jure
B. Penyebaran Berita Proklamasi dan Sikap Rakyat di Berbagai Daerah
Penyebaran berita proklamasi memiliki banyak kendala khusunya yg berada
di luar Jawa. Berikut faktor yg menjadi hambatan dlm penyebaran berita
proklamasi adalah :
1. Wilayah Indonesia yg sangat luas.
2. Komunikasi dan transportasi masih sangat terbatas.
3. Adanya larangan untuk menyebarkan berita proklamasi oleh pasukan Jepang di Indonesia,
Sedangakan berita penyebaran Proklamasi melalui berbagai cara :
1. Siaran Radio Hoso Kanriyoko (sekarang RRI) oleh Yusufranodipuro,
2. Sejak Th 1946 RRI Yogyakarta berhasil menyiarkan berita Proklamasi
berbahasa Inggris yaitu The Voice of Freedom Indonesia oleh Molly Warner
(Orang Australia yg simpati pd Indonesia)
3. Kantor berita Domei (sekarang bernama Kantor berita Antara) oleh Syahrudin, F.Wuz, Adam Malik, dkk
4. Melalu media cetak spt Harian Suara Asia (Surabaya) yg merupakan
koran pertama Indonesia, Balai Pustaka oleh Suparjo, Percetakan Asia
Raya oleh BM.Diah, dsb
5. Melalui pemasangan Plakat, poster & coretan di tembok.
6. Melalui utusan PPKI ke berbagai daerah seperti :
Teuku Mohammad Hassan dari Aceh.
Sam Ratulangi dari Sulawesi.
Ketut Pudja dari Sunda Kecil (Bali).
A. A. Hamidan dari Kalimantan.
Meskipun orang Jepang tersebut memerintahkan penghentian siaran berita
proklamasi, tetapi Waidan Palenewen tetap meminta F. Wuz untuk terus
menyiarkan. Berita proklamasi kemerdekaan diulangi setiap setengah jam
sampai pukul 16.00 saat siaran berhenti. Akibat dari penyiaran tersebut,
pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita dan
menyatakan sebagai kekeliruan. Pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancar
tersebut disegel oleh Jepang dan para pegawainya dilarang masuk.
Sekalipun pemancar pada kantor Domei disegel, para pemuda bersama Jusuf
Ronodipuro (seorang pembaca berita di Radio Domei) ternyata membuat
pemancar baru dengan bantuan teknisi radio, di antaranya Sukarman,
Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar. Mereka mendirikan pemancar baru di
Menteng 31, dengan kode panggilan DJK 1. Dari sinilah selanjutnya
berita proklamasi kemerdekaan disiarkan ke seluruh dunia.
C. Terbentuknya NKRI serta Kelengkapannya
Pada sidang PPKI muncul permasalahan yang disampaikan oleh wakil dari
luar Jawa, di antaranya Mr. Latuharhary (Maluku), Dr. Sam Ratulangi
(Sulawesi), Mr. Tadjudin Noor dan Ir. Pangeran Noor (Kalimantan), dan
Mr. I Ktut Pudja (Nusa Tenggara) yang menyampaikan keresahan penduduk
non-Islam mengenai kalimat dalam Piagam Jakarta yang nantinya akan
dijadikan rancangan pembukaan dan Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia. Kalimat yang dimaksud adalah “Ketuhanan dengan kewajiban
menjalankan syariah Islam bagi para pemeluknya”, serta “syarat seorang
kepala negara haruslah seorang muslim”. Untuk mengatasi masalah
tersebut Drs. Mohammad Hatta beserta Ki Bagus Hadikusumo, Wachid Hasyim,
Mr. Kasman Singadimedjo, dan Mr. Teuku Mohammad Hassan membicarakannya
secara khusus. Akhirnya dengan mempertimbangkan kepentingan yang lebih
luas dan menegakkan Negara Republik Indonesia yang baru saja didirikan,
rumusan kalimat yang dirasakan memberatkan oleh kelompok non-Islam
dihapus sehingga menjadi berbunyi “ Ketuhanan Yang Maha Esa” dan syarat
seorang kepala negara adalah orang Indonesia asli. Untuk memahami hasil
sidang secara lengkap, maka perhatikan tabel 11.2 di bawah ini.
1 . Pembentukan Komite Nasional
Sebagai tindak lanjut dari sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 maka
dibentuklah Komite Nasional Indonesia (KNI). Komite Nasional Indonesia
adalah badan yang akan berfungsi sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
sebelum diselenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu). KNIP diketuai oleh Mr.
Kasman Singodimejo. Anggota KNIP dilantik pada tanggal 29 Agustus 1945.
Tugas pertama KNIP adalah membantu tugas kepresidenan. Namun, kemudian
diperluas tidak hanya sebagai penasihat presiden, tetapi juga mempunyai
kewenangan legislatif. Wewenang KNIP sebagai DPR ditetapkan dalam rapat
KNIP tanggal 16 Oktober 1945. Dalam rapat tersebut, wakil presiden Drs.
Moh. Hatta mengeluarkan Maklumat Pemerintah RI No. X yang isinya
meliputi hal-hal berikut.
a. KNIP sebelum DPR/MPR terbentuk diserahi kekuasaan legislatif untuk
membuat undang-undang dan ikut menetapkan Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN).
b. Berhubung gentingnya keadaan, maka pekerjaan sehari-hari KNIP
dijalankan oleh sebuah Badan Pekerja KNIP yang diketuai oleh Sutan
Syahrir. Komite Nasional Indonesia disusun dari tingkat pusat sampai
daerah. Pada tingkat pusat disebut Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dan pada tingkat daerah yang disusun sampai tingkat kawedanan
disebut Komite Nasional Indonesia.
Tabel 11.2 Hasil-Hasil Sidang PPKI Secara Lengkap
2 . Pembentukan Partai Nasional Indonesia
Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI bersidang untuk yang ketiga kalinya
dan menghasilkan keputusan antara lain pembentukan Partai Nasional
Indonesia, yang pada waktu itu dimaksudkan sebagai satu-satunya partai
politik di Indonesia (partai tunggal). Dalam perkembangannya muncul
Maklumat tanggal 31 Agustus 1945 yang memutuskan bahwa gerakan dan
persiapan Partai Nasional Indonesia ditunda dan segala kegiatan
dicurahkan ke dalam Komite Nasional. Sejak saat itu, gagasan satu partai
tidak pernah dihidupkan lagi. Demi kelangsungan kehidupan demokrasi,
maka KNIP mengajukan usul kepada pemerintah agar rakyat diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk mendirikan partai politik. Sebagai
tanggapan atas usul tersebut, maka pada tanggal 3 November 1945
pemerintah mengeluarkan maklumat pemerintah yang pada intinya berisi
memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik.
Maklumat itu kemudian dikenal dengan Maklumat Pemerintah tanggal 3
November 1945. Partai politik yang muncul setelah Maklumat Pemerintah
tanggal 3 November 1945 dikeluarkan antara lain Masyumi, Partai Komunis
Indonesia, Partai Buruh Indonesia, Parkindo, Partai Rakyat Jelata,
Partai Sosialis Indonesia, Partai Rakyat Sosialis, Partai Katolik,
Permai, dan PNI.
3 . Pembentukan Badan Keamanan Rakyat
Badan Keamanan Rakyat (BKR) ditetapkan sebagai bagian dari Badan
Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP), yang merupakan induk organisasi
yang ditujukan untuk memelihara keselamatan masyarakat. BKR tugasnya
sebagai penjaga keamanan umum di daerah-daerah di bawah koordinasi KNI
Daerah. Para pemuda bekas anggota Peta, KNIL, dan Heiho segera membentuk
BKR di daerah sebagai wadah perjuangannya. Khusus di Jakarta dibentuk
BKR Pusat untuk mengoordinasi dan mengendalikan BKR di bawah pimpinan
Kaprawi. Sementara BKR Jawa Timur dipimpin Drg. Moestopo, BKR Jawa
Tengah dipimpin Soedirman, dan BKR Jawa Barat dipimpin Arudji
Kartawinata. Pemerintah belum membentuk tentara yang bersifat nasional
karena pertimbangan politik, mengingat pembentukan tentara yang bersifat
nasional akan mengundang sikap permusuhan dari Sekutu dan Jepang.
Menurut perhitungan, kekuatan nasional belum mampu menghadapi gabungan
Sekutu dan Jepang. Sementara itu para pemuda yang kurang setuju
pembentukan BKR dan menghendaki pembentukan tentara nasional, membentuk
badan-badan perjuangan atau laskar bersenjata. Badan perjuangan tersebut
misalnya Angkatan Pemuda Indonesia (API), Pemuda Republik Indonesia
(PRI), Barisan Pemuda Indonesia (BPI), dan lainnya. Selain itu para
pemuda yang dipelopori oleh Adam Malik membentuk Komite van Actie.
Pada tanggal 5 Oktober 1945 dikeluarkan Maklumat Pemerintah yang
menyatakan berdirinya Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Sebagai pimpinan
TKR ditunjuk Supriyadi. Berdasarkan maklumat pemerintah tersebut, maka
segera dibentuk Markas Tertinggi TKR oleh Oerip Soemohardjo yang
berkedudukan di Yogyakarta. Di Pulau Jawa terbentuk 10 Divisi dan di
Sumatra 6 Divisi. Berkembangnya kekuatan pertahanan dan keamanan yang
begitu cepat memerlukan satu pimpinan yang kuat dan berwibawa untuk
mengatasi segala persoalan akibat perkembangan tersebut. Supriyadi yang
ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi TKR ternyata tidak pernah muncul.
Pada bulan November 1945 atas prakarsa dari markas tertinggi TKR
diadakan pemilihan pemimpin tertinggi TKR yang baru. Yang terpilih
adalah Kolonel Soedirman, Komandan Divisi V/Banyumas. Sebulan kemudian
pada tanggal 18 Desember 1945, Soedirman dilantik sebagai Panglima Besar
TKR dengan pangkat jenderal.dan Oerip Soemohardjo tetap menduduki
jabatan lamanya sebagai Kepala Staf Umum TKR dengan pangkat Letnan
Jenderal (Letjen). Terpilihnya Soedirman merupakan titik tolak
perkembangan organisasi kekuatan pertahanan keamanan. Pada bulan Januari
1946, TKR berubah menjadi Tentara Rakyat Indonesia (TRI). Pada bulan
Juni 1947 nama TRI berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
D. Dukungan Daerah terhadap Pembentukan NKRI
Kemerdekaan yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 ternyata
mendapat sambutan yang luar biasa di berbagai daerah, baik di Jawa
maupun luar Jawa. Berikut ini dukungan terhadap pembentukan Negara
Republik Indonesia.
1. Di Sulawesi Selatan,
Raja Bone (Arumpone) La Mappanjuki, yang masih tetap ingat akan
pertempuran-pertempuran melawan Belanda pada awal abad XX, menyatakan
dukungannya terhadap Negara Kesatuan dan Pemerintahan Republik
Indonesia. Mayoritas raja-raja suku Makasar dan Bugis mengikuti jejak
Raja Bone mengakui kekuasaan Dr. Sam Ratulangie yang ditunjuk pemerintah
sebagai Gubernur Republik di Sulawesi.
2. Empat raja di Jawa Tengah
(Mangkunegaran, Kasunanan Surakarta, Kasultanan, dan Paku Alaman
Yogyakarta) menyatakan dukungan mereka kepada Republik Indonesia pada
awal September 1945.
3. Dukungan yang sangat penting ditunjukkan oleh Sri Sultan Hamengku
Buwono IX dari Kasultanan Yogyakarta yang nampak dalam pernyataannya
tanggal 5 September 1945. Dalam pernyataan tersebut Sri Sultan Hamengku
Buwono IX menegaskan bahwa Negeri Ngayogyokarto Hadiningrat yang
bersifat kerajaan sebagai Daerah Istimewa dalam Negara Republik
Indonesia. Pernyataan tersebut merupakan suatu keputusan yang cukup
berani dan bijak di dalam negara kerajaan yang berdaulat. Sesuai dengan
konsep negara kesatuan yang dianut Indonesia, tidak akan ada negara di
dalam negara. Kalau hal tersebut terjadi akan memudahkan bangsa asing
mengadu domba.
4. Sulawesi Selatan
Pada tanggal 19 Agustus 1945, rombongan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur
Sulawesi, mendarat di Sapiria, Bulukumba. Setelah sampai di
Ujungpandang, gubernur segera membentuk pemerintahan daerah. Mr. Andi
Zainal Abidin diangkat sebagai Sekretaris Daerah. Tindakan gubernur oleh
para pemuda dianggap terlalu berhatihati, kemudian para pemuda
mengorganisasi diri dan merencanakan merebut gedung-gedung vital seperti
studio radio dan tangsi polisi. Kelompok pemuda tersebut terdiri dari
kelompok Barisan Berani Mati (Bo-ei Taishin), bekas kaigun heiho dan
pelajar SMP.
5 . Bali
Para pemuda Bali telah membentuk berbagai organisasi pemuda, seperti
AMI, Pemuda Republik Indonesia (PRI) pada akhir Agustus 1945. Mereka
berusaha untuk menegakkan Republik Indonesia melalui perundingan tetapi
mendapat hambatan dari pasukan Jepang. Pada tanggal 13 Desember 1945
mereka melakukan gerakan serentak untuk merebut kekuasaan dari tangan
Jepang, meskipun gerakan ini gagal.
6. Gorontalo
Pada tanggal 13 September 1945 di Gorontalo terjadi perebutan senjata
terhadap markas-markas Jepang. Kedaulatan Republik Indonesia berhasil
ditegakkan dan para pemimpin Republik menolak ajakan untuk berunding
dengan pasukan pendudukan Australia.
7 . Rapat Raksasa di Lapangan Ikada
Rapat Raksasa dilaksanakan di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta)
tanggal 19 September 1945. Sekitar 200.000 orang hadir dalam pertemuan
tersebut. Pada peristiwa ini, kekuatan Jepang, termasuk tank-tank,
berjaga-jaga dengan mengelilingi rapat umum tersebut. Rapat Ikada
dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta
sejumlah menteri. Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah,
Presiden Soekarno menyampaikan pidato yang intinya berisi permintaan
agar rakyat memberi kepercayaan dan dukungan kepada pemerintah RI,
mematuhi perintahnya dan tunduk kepada disiplin. Setelah itu Presiden
Soekarno meminta rakyat yang hadir bubar dan tenang.
8. Terjadinya Insiden Bendera di Hotel
Yamat amat amato, o, Sur Suraba aba abaya Insiden ini terjadi pada
tanggal 19 September 1945, ketika orang-orang Belanda bekas tawanan
Jepang menduduki Hotel Yamato, dengan dibantu segerombolan pasukan
Serikat. Orang-orang Belanda tersebut mengibarkan bendera mereka di
puncak Hotel Yamato. Hal tersebut memancing kemarahan para pemuda. Hotel
tersebut diserbu para pemuda, setelah permintaan Residen Sudirman untuk
menurunkan bendera Belanda ditolak penghuni hotel. Bentrokan tidak
dapat dihindarkan. Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel serta
menurunkan bendera Belanda yang berkibar di atasnya. Mereka merobek
warna birunya dan mengibarkan kembali sebagai Merah Putih.
9. Yogyakarta
Di Yogyakarta perebutan kekuasaan secara serentak dimulai tanggal 26
September 1945. Sejak pukul 10 pagi semua pegawai instansi pemerintah
dan perusahaan yang dikuasai Jepang melaksanakan aksi mogok. Mereka
memaksa agar orang-orang Jepang menyerahkan aset dan kantornya kepada
orang Indonesia. Tanggal 27 September 1945 Komite Nasional Indonesia
Daerah Yogyakarta mengumumkan bahwa kekuasaan di daerah tersebut telah
berada di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada hari itu juga di
Yogyakarta diterbitkan surat kabar Kedaulatan Rakyat.
10.Sumatra Selatan
Dukungan dan perebutan kekuasaan terjadi di Sumatra Selatan pada tanggal
8 Oktober 1945, ketika Residen Sumatra Selatan dr. A.K. Gani bersama
seluruh pegawai Gunseibu dalam suatu upacara menaikkan bendera Merah
Putih. Setelah upacara selesai, para pegawai kembali ke kantornya
masing-masing. Pada hari itu juga diumumkan bahwa di seluruh Karesidenan
Palembang hanya ada satu kekuasaan yakni kekuasaan Republik Indonesia.
Perebutan kekuasaan di Palembang berlangsung tanpa insiden, sebab
orang-orang Jepang telah menghindar ketika terjadi demonstrasi.
12 Pertempuran Lima Hari di Semarang
Peristiwa ini terjadi di Semarang pada tanggal 15 – 20 Oktober 1945.
Peristiwa itu berawal ketika 400 orang veteran AL Jepang yang akan
dipekerjakan untuk mengubah pabrik gula Cepiring menjadi pabrik senjata
memberontak ketika akan dipindahkan ke Semarang. Tawanan-tawanan
tersebut menyerang polisi Indonesia yang mengawal mereka. Situasi
bertambah hangat dengan meluasnya desas-desus bahwa cadangan air minum
di desa Candi telah diracuni. Dr. Karyadi yang meneliti cadangan air
minum tersebut meninggal ditembak oleh Jepang. Pertempuran mulai pecah
dini hari tanggal 15 Oktober 1945 di Simpang Lima. Pertempuran
berlangsung lima hari dan baru berhenti setelah pimpinan TKR berunding
dengan pimpinan pasukan Jepang. Usaha perdamaian dipercepat dengan
mendaratnya pasukan Sekutu di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 yang
kemudian menawan dan melucuti senjata tentara Jepang. Untuk mengenang
keberanian para pemuda Semarang dalam pertempuran tersebut, maka
dibangunlah Tugu Muda yang terletak di kawasan Simpang Lima, Semarang.
13.Bandung
Pertempuran diawali dengan usaha para pemuda untuk merebut pangkalan
Udara Andir dan pabrik senjata bekas ACW (Artillerie Constructie Winkel,
sekarang Pindad). Usaha tersebut berlangsung sampai datangnya pasukan
Sekutu di Bandung tanggal 17 Oktober 1945.
14. Kalimantan
Di beberapa kota di Kalimantan mulai timbul gerakan yang mendukung
proklamasi. Akibatnya tentara Australia yang sudah mendarat atas nama
Sekutu mengeluarkan ultimatum melarang semua aktivitas politik, seperti
demonstrasi dan mengibarkan bendera Merah Putih, memakai lencana Merah
Putih dan mengadakan rapat. Namun kaum nasionalis tidak menghiraukannya.
Di Balikpapan tanggal 14 November 1945, tidak kurang 8.000 orang
berkumpul di depan komplek NICA sambil membawa bendera Merah Putih.
15.Sulawesi Utara
Pada tanggal 14 Februari 1946, para pemuda Indonesia anggota KNIL
tergabung dalam Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) mengadakan gerakan di
Tangsi Putih dan Tangsi Hitam di Teling, Manado. Mereka membebaskan
tawanan yang mendukung Republik Indonesia antara lain Taulu, Wuisan,
Sumanti, G.A. Maengkom, Kusno Dhanupojo, dan G.E. Duhan. Di sisi lain
mereka juga menahan Komandan Garnisun Manado dan semua pasukan Belanda
di Teling dan penjara Manado. Dengan diawali peristiwa tsb para pemuda
menguasai markas Belanda di Tomohon dan Tondano. Berita tentang
perebutan kekuasaan tersebut dikirim ke pemerintah pusat yang saat itu
di Yogyakarta dan mengeluarkan Maklumat No. 1 yang ditandatangani oleh
Ch. Taulu. Pemerintah sipil dibentuk tanggal 16 Februari 1946 dan
sebagai residen dipilih B.W. Lapian.
BAB III. BENTUK-BENTUK HUBUNGAN SOSIAL DAN PRANATA SOSIAL DALAM
KEHIDUPAN MASYARAKAT
A. Hubungan Sosial
Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses yang asosiatif
dan disosiatif. Hubungan sosial asosiatif merupakan hubungan yang
bersifat positif, Adapun hubungan sosial disosiatif merupakan hubungan
yang bersifat negatif, artinya hubungan ini dapat merenggangkan atau
menggoyahkan jalinan atau solidaritas kelompok yang telah terbangun.
Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial Asosiatif
a. Kerja sama
1) Kerukunan 3) Kooptasi 5) Joint Venture
2) Bargaining 4) Koalisi
b. Akomodasi
1) Koersi 4) Mediasi 7) Stalemate
2) Kompromi 5) Konsiliasi 8) Pengadilan
3) Arbitrasi 6) Toleransi
c. Asimilasi
d. Akulturasi
Bentuk-Bentuk Hubungan Disosiatif
a. Persaingan
b. Kontravensi
c. Pertentangan/Perselisihan
1. Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial Asosiatif
Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang cenderung
menjalin kesatuan dan meningkatkan solidaritas anggota kelompok.
Bentuk-bentuknya :
a. Kerja sama;
Kerja sama dapat terjalin semakin kuat jika dalam melakukan kerja sama
tersebut terdapat kekuatan dari luar yang mengancam. Bentuk bentuk kerja
sama.
1) Kerukunan;
merupakan bentuk kerja sama yang paling sederhana dan mudah diwujudkan
dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk kerukunan, misalnya kegiatan
gotong royong, musyawarah, dan tolong menolong.
2) Bargaining;
merupakan bentuk kerja sama yang dihasilkan melalui proses tawar menawar
atau kompromi antara dua pihak atau lebih untuk mencapai suatu
kesepakatan. Bentuk kerja sama ini pada umumnya dilakukan di bidang
perdagangan atau jasa. Contohnya kegiatan tawar menawar antara penjual
dan pembeli dalam kegiatan perdagangan.
3) Kooptasi (cooptation);
proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan
politik suatu organisasi agar tidak terjadi keguncangan atau perpecahan
di tubuh organisasi tersebut. Contohnya pemerintah akhirnya menyetujui
penerapan hukum Islam di Nanggroe Aceh Darussalam yang semula masih pro
kontra, untuk mencegah disintegrasi bangsa.
4) Koalisi (coalition);
yaitu kombinasi antara dua pihak atau lebih yang bertujuan sama.
Contohnya koalisi antara dua partai politik dalam mengusung tokoh calon
bupati dlm pilkada.
5) Joint venture;
yaitu kerja sama antara pihak asing dengan pihak setempat dalam
pengusahaan proyek-proyek tertentu. Contohnya kerjasama antara PT Exxon
mobil Co.LTD dengan PT Pertamina dalam mengelola proyek penambangan
minyak di Blok Cepu.
b. Akomodasi; dapat diartikan suatu bentuk keseimbangan dalam
interaksi antar individu atau kelompok manusia dalam kaitannya dengan
norma sosial dan nilai sosial yang berlaku. Berikut ini bentuk-bentuk
akomodasi.
1) Koersi (coercion); suatu bentuk akomodasi yang dilaksanakan karena
adanya paksaan, baik secara fisik (langsung) ataupun secara psikologis
(tidak langsung). Di dalam hal ini, salah satu pihak berada pada kondisi
yang lebih lemah. Contoh: Koersi secara fisik adalah perbudakan dan
penjajahan, sedangkan koersi secara psikologis contohnya tekanan
negara-negara donor.
2) Kompromi (compromize); suatu bentuk akomodasi di antara pihak-pihak
yang terlibat untuk dapat saling mengurangi tuntutannya agar
penyelesaian masalah yang terjadi dapat dilakukan. Contohnya perjanjian
antara pemerintah Indonesia dengan gerakan separatis Aceh dalam hal
menjaga stabilitas keamanan stabilitas keamanan di Aceh.
3) Arbitrasi (arbitration); suatu cara mencapai kesepakatan yang
dilakukan antara dua pihak yang bertikai dengan bantuan pihak ketiga.
Pihak ketiga tersebut memiliki wewenang dalam penyelesaian sengketa dan
biasanya merupakan suatu badan yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari
pihak-pihak yang bertikai. Contohnya penyelesaian pertikaian antara
buruh dengan pemilik perusahaan oleh Dinas Tenaga Kerja.
4) Mediasi (mediation); mediasi hampir sama dengan arbitrasi. Akan
tetapi, dalam hal ini fungsi pihak ketiga hanya sebagai penengah dan
tidak memiliki wewenang dalam penyelesaian sengketa. Contohnya mediasi
yang dilakukan oleh pemerintah Finlandia dalam penyelesaian konflik
antara pemerintah Indonesia dengan GAM.
5) Konsiliasi (conciliation); yaitu usaha mempertemukan keinginan dari
beberapa pihak yang sedang berselisih demi tercapainya tujuan bersama.
Contohnya konsultasi antara pengusaha angkutan dengan Dinas Lalu Lintas
dalam penetapan tarif angkutan.
6) Toleransi (tolerance); suatu bentuk akomodasi yang dilandasi sikap
saling menghormati kepentingan sesama sehingga perselisihan dapat
dicegah atau tidak terjadi. Dalam hal ini, toleransi timbul karena
adanya kesadaran masingmasing individu yang tidak direncanakan.
Contohnya toleransi antarumat beragama di Indonesia.
7) Stalemate; suatu keadaan perselisihan yang berhenti pada tingkatan
tertentu. Keadaan ini terjadi karena masing-masing pihak tidak dapat
lagi maju ataupun mundur (seimbang). Hal ini menyebabkan masalah yang
terjadi akan berlarut-larut tanpa ada penyelesaiannya. Contohnya
perselisihan antara negara Amerika Serikat dengan negara Iran terkait
dengan isu nuklir.
8) Pengadilan (adjudication); merupakan bentuk penyelesaian perkara atau
perselisihan di pengadilan oleh lembaga negara melalui peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Contohnya penyelesaian kasus sengketa
tanah di pengadilan.
c. Asimilasi; adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok
masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul
secara interaktif dalam jangka waktu lama. Dengan demikian, lambat laun
kebudayaan asli akan berubah sifat dan wujudnya menjadi kebudayaan baru
yang merupakan perpaduan kebudayaan dan masyarakat dengan tidak lagi
membeda-bedakan antara unsur budaya lama dengan kebudayaan baru. Proses
ini ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan yang ada. Proses
asimilasi bisa timbul jika ada:
1) kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya;
2) orang perorangan sebagai anggota kelompok saling bergaul secara intensif, langsung, dan dalam jangka waktu yang lama;
3) kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing
berubah dan saling menyesuaikan. Contohnya perkawinan antarsuku sehingga
terjadi pembauran dari kebudayaan masing-masing individu sehingga
muncul kebudayaan baru.
d. Akulturasi; adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur budaya asing
ke dalam kebudayaan sendiri. Diterimanya unsur-unsur budaya asing
tersebut berjalan secara lambat dan disesuaikan dengan kebudayaan
sendiri, sehingga kepribadian budaya sendiri tidak hilang. Contohnya
akulturasi antara budaya Hindu dan Islam yang tampak pada seni
arsitektur masjid Kudus .
2. Bentuk-Bentuk Hubungan Disosiatif
a. Persaingan; adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh individu
atau kelompok dalam usahanya mencapai keuntungan tertentu tanpa adanya
ancaman atau kekerasan dari para pelaku. Contohnya persaingan
antarperusahaan telekomunikasi atau provider dalam menyediakan pelayanan
tarif murah pulsa.
b. Kontravensi; merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada di
antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi
adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap orang atau unsur-unsur
budaya kelompok lain. Sikap tersembunyi tersebut dapat berubah menjadi
kebencian, namun tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.
Bentuk kontravensi, misalnya berupa perbuatan menghalangi, menghasut,
memfitnah, berkhianat, provokasi, dan intimidasi. Contohnya demontrasi
yang dilakukan elemen masyarakat untuk menghalangi atau menolak kenaikan
BBM
c. Pertentangan/Perselisihan; adalah suatu proses sosial di mana
individu atau kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau
kekerasan untuk mencapai suatu tujuan. Contohnya pertentangan antara
golongan muda dengan golongan tua dalam menentukan waktu pelaksanaan
Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 1945.
B. Pranata Sosial
1. Pengertian dan Fungsi Pranata Sosial
Pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dalam hubungan yang
berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi berbagai kebutuhan
khusus dalam masyarakat. Pranata sosial berasal dari bahasa asing social
institutions, itulah sebabnya ada beberapa ahli sosiologi yang
mengartikannya sebagai lembaga kemasyarakatan, di antaranya adalah
Soerjono Soekanto. Dengan kata lain, pranata sosial merupakan kumpulan
norma (sistem norma) dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan pokok
masyarakat. Secara umum, pranata sosial mempunyai beberapa fungsi.
Berikut ini fungsi-fungsi pranata sosial.
a. Memberikan pedoman kepada anggota masyarakat dalam hal bertingkah laku dan bersikap dalam menghadapi masalah kemasyarakatan.
b. Menjaga keutuhan dan integrasi masyarakat.
c. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem
pengendalian sosial, artinya sistem pengawasan masyarakat terhadap
tingkah laku anggota-anggotanya.
Selain fungsi umum tersebut, pranata sosial memiliki dua fungsi besar
yaitu fungsi manifes (nyata) dan fungsi laten (terselubung).
a. Fungsi manifes adalah fungsi pranata sosial yang nyata, tampak,
disadari dan menjadi harapan sebagian besar anggota masyarakat. Misalnya
dalam pranata keluarga mempunyai fungsi reproduksi yaitu mengatur
hubugnan seksual untuk dapat melahirkan keturunan.
b. Fungsi laten adalah fungsi pranata sosial yang tidak tampak, tidak
disadari dan tidak diharapkan orang banyak, tetapi ada. Misalnya dalam
pranata keluarga mempunyai fungsi laten dalam pewarisan gelar atau
sebagai pengendali sosial dari perilaku menyimpang.
2. Ciri-Ciri Pranata Sosial
a. Memiliki Lambang-Lambang/Simbol
Setiap pranata sosial pada umumnya memiliki lambang-lambang atau
simbol-simbol yang ter-wujud dalam tulisan, gambar yang memiliki makna
serta menggambarkan tujuan dan fungsi pranata yang bersangkutan. Contoh
cincin pernikahan sebagai simbol dalam pranata keluarga, burung garuda
merupakan simbol dari pranta politik negara Indonesia.
b . Memiliki Tata Tertib dan Tradisi
Pranata sosial memiliki aturan-aturan yang menjadi tata tertib serta
tradisi-tradisi baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang akan
menjadi pedoman bagi setiap anggota masyarakat. Contohnya dalam pranata
keluarga seorang anak wajib bersikap hormat kepada orang tua, namun
tidak ada aturan tertulis yang baku tentang deskripsi sikap tersebut.
Sementara itu dalam pranata pendidikan ada aturan-aturan tertulis.
c . Memiliki Satu atau Beberapa Tujuan
Pranata sosial mempunyai tujuan yang disepakati bersama oleh anggota
masyarakat. Tujuan pranata sosial kadang tidak sejalan dengan fungsinya
secara keseluruhan. Contoh: Pranata ekonomi, antara lain bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
d . Memiliki Nilai
Pranata sosial terdiri atas adat istiadat, tradisi atau kebiasaan serta
unsur-unsur kebudayaan lain yang secara langsung maupun tidak langsung
bergabung dalam suatu fungsi, sehingga pranata sosial tersebut mempunyai
makna atau nilai di dalam masyarakat tersebut. Contoh tradisi dan
kebiasaan dalam sikap menghormati atau sikap sopan santun terhadap orang
yang lebih tua.
e . Memiliki Usia Lebih Lama (Tingkat Kekekalan Tertentu)
Pranata sosial pada umumnya memiliki umur lebih lama daripada umur
manusia. Pranata sosial pada umumnya tidak mudah berganti atau berubah.
Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pranata sosial yang diwariskan
dari generasi ke generasi. Pranata sosial yang telah diterima akan
melembaga pada setiap diri anggota masyarakat dalam jangka waktu relatif
lama sehingga dapat di-tentukan memiliki tingkat kekekalan tertentu.
Contohnya tradisi silaturahmi pada waktu hari raya lebaran, merupakan
tradisi turun temurun dari dulu hingga sekarang.
f . Memiliki Alat Kelengkapan
Pranata sosial dan memiliki sarana dan prasarana yang digunakan untuk
mencapai tujuan. Misalnya mesin produksi pada sebuah pabrik merupakan
sarana dalam pranata ekonomi untuk menghasilkan barang.
3. Penggolongan Pranata Sosial
Berdasarkan fungsi-fungsi secara umum dan karakteristiknya tersebut,
pranata sosial dapat diklasifikasikan dari berbagai sudut. Berikut ini
beberapa tipe atau penggolongan pranata sosial.
a. Berdasarkan perkembangannya
1) Crescive institutions adalah pranata sosial yang secara tidak sengaja
tumbuh dari kebiasaan masyarakat. Misalnya: tata cara perkawinan,
norma-norma, dan berbagai upacara adat.
2) Enacted institutions adalah pranata sosial yang sengaja dibentuk
untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Misalnya: lembaga pendidikan, lembaga
keuangan, lembaga kesehatan, dan lain-lain.
b. Berdasarkan sistem nilai/kepentingan yang diterima masyarakat,
1) Basic institutions adalah pranata sosial yang dianggap penting dalam
upaya pengawasan terhadap tata tertib di masyarakat. Misalnya keluarga,
sekolah, dan negara.
2) Subsidiary institutions adalah pranata yang dianggap kurang penting. Misalnya tempat-tempat hiburan atau rekreasi.
c. Berdasarkan penerimaan masyarakat,
1) Approved institutions adalah bentuk pranata sosial yang diterima
secara umum oleh masyarakat. Misalnya lembaga pendidikan, lembaga
peradilan, dan lainlain.
2) Unsanctioned institutions adalah bentuk pranata sosial yang secara
umum ditolak oleh masyarakat. Misalnya berbagai perilaku penyimpangan,
seperti merampok, memeras, pusat-pusat perjudian, prostitusi, dan
lain-lain.
d. Berdasarkan faktor penyebarannya,
1) General institutions adalah bentuk pranata sosial yang diketahui dan
dipahami masyarakat secara umum. Misalnya keberadaan agama dalam
kehidupan.
2) Restricted institutions adalah bentuk pranata sosial yang hanya
dipahami oleh anggota kelompok tertentu. Misalnya pelaksanaan ajaran
agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, atau berbagai
aliran kepercayaan lainnya.
e. Berdasarkan fungsinya,
1) Cooperative institutions adalah bentuk pranata sosial yang berupa
kesatuan pola dan tata cara tertentu. Misalnya pranata perdagangan dan
pranata industri.
2) Regulative institutions adalah bentuk pranata sosial yang bertujuan
mengatur atau mengawasi pelaksanaan nilai-nilai atau norma-norma yang
berkembang di masyarakat. Misalnya pranata hukum (kepolisian, kejaksaan,
dan pengadilan).
4. Macam-Macam Pranata
Pranata sosial pada dasarnya adalah sistem norma yang mengatur segala
tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan pokoknya dalam hidup
bermasyarakat.
Adapun macam-macam pranata s: pranata keluarga, pranata agama, pranata ekonomi, pranata pendidikan, dan pranata politik.
a. Pranata Keluarga
Pranata keluarga adalah bagian dari pranata sosial yang meliputi
lingkungan keluarga dan kerabat. Pembentukan watak dan perilaku
seseorang dapat dipengaruhi oleh pranata keluarga yang dialami dan
diterapkannya sejak kecil. Bagi masyarakat, pranata keluarga berfungsi
untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat.
1 ) Pengertian Keluarga
Keluarga adalah satuan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat.
Satuan kekerabatan dapat disebut keluarga disebabkan adanya perkawinan
atau keturunan. Berdasarkan jumlah anggotanya, keluarga dpt dibedakan
mjd keluarga inti dan keluarga luas.
(a) Keluarga inti atau batih (nuclear family)
adalah satuan kekerabatan yang terdiri atas ayah dan ibu (orang tua)
beserta anak-anaknya dalam satu rumah. Ada juga keluarga inti yg
belum/tidak mempunyai anak.
(b) Keluarga luas (extended family)
adalah satuan kekerabatan yang terdiri atas lebih dari satu generasi
atau lebih dari satu keluarga inti dalam satu rumah. Misalnya, keluarga
yang memiliki kakek atau nenek, paman atau bibi, keponakan, dan
lain-lain yang tinggal serumah..
2 ) Peran atau Fungsi Pranata Keluarga
Sebagai salah satu bentuk pranata sosial, pranata keluarga mempunyai beberapa fungsi,
fungsi pranata keluarga.:
a) Fungsi reproduksi; keluarga merupakan sarana untuk memperoleh
keturunan secara sehat, terencana, terhormat, sesuai dengan ajaran
agama, dan sah di mata hukum.
b) Fungsi keagamaan; merupakan sarana berdoa atau beribadah sesuai dengan keyakinan orang tuanya sejak dini.
c) Fungsi ekonomi; merupakan suatu wadah dalam usaha mengembangkan serta mengatur potensi dan kemampuan ekonomi.
d) Fungsi afeksi; merupakan wahana untuk mewujudkan rasa kasih sayang
dan rasa cinta, sehingga dapat menjaga perasaan masing-masing anggota
keluarga agar tercipta kerukunan dan keharmonisan hubungan di dalam
keluarga.
e) Fungsi sosialisasi; sarana utk memberikan pemahaman tentang
bagaimana seorang anggota keluarga bergaul dan berkomunikasi dengan
orang lain dalam keluarga
f) Fungsi penentuan status; melalui keluarga seorang anak memperoleh
statusnya dalam masyarakat, seperti nama, jenis kelamin, hak waris,
tempat dan tanggal lahir,dsb..
g) Fungsi pendidikan; merupakan sarana untuk mendidik anak agar
memiliki bekal ke depan sebelum mereka memasuki masa bermain di
lingkungan dan sekolahnya.
h) Fungsi perlindungan; merupakan sarana untuk mendpatkan rasa aman,
nyaman, dan dapat menerima curahan kasih sayang dari orang tua atau dari
sesama anggota keluarga.
b . Pranata Agama
1 ) Pengertian Agama
Agama adalah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan
(kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta
mencakup pula tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antarmanusia
dan antara manusia dengan lingkungannya..
2 ) Peran atau Fungsi Pranata Agama
a) Fungsi ajaran atau aturan;
memberi tujuan atau orientasi sehingga timbul rasa saling hormat antarsesama manusia.
b) Fungsi hukum;
memberikan aturan yang jelas terhadap tingkah laku manusia akan hal-hal yang dianggap benar dan hal-hal yang dianggap salah.
c) Fungsi sosial;
sebagai dasar aturan kesusilaan dalam masyarakat, misalnya dalam masalah
ekonomi, pendidikan, kesehatan, perkawinan, kesenian, arsitektur
bangunan, dan lain-lain.
d) Fungsi ritual;
ajaran agama memiliki cara-cara ibadah khusus yang tentu saja berbeda dengan agama lainnya.
e) Fungsi transformatif;
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Misalnya, dengan agama,
umat manusia mampu menciptakan karyakarya seni besar, seperti candi,
masjid, dsb…
c . Pranata Ekonomi
1 ) Pengertian Ekonomi
Secara umum, ekonomi diartikan sebagai cabang ilmu mengenai asas-asas
produksi, distribusi, dan konsumsi barang-barang serta kekayaan (seperti
halnya keuangan, perindustrian, dan perdagangan). Dalam hal ini,
ekonomi diartikan sebagai tata tindakan dalam memanfaatkan uang, tenaga,
waktu, atau barang-barang berharga lainnya.
2 ) Peran atau Fungsi Pranata Ekonomi
Pranata ekonomi merupakan bagian dari pranata sosial yang mengatur
kegiatan ekonomi, seperti produksi, distribusi, dan konsumsi barang/jasa
yang dibutuhkan manusia.
Secara umum, peran-peran pranata ekonomi dapat dibedakan atas peran
pranata ekonomi produksi, peran pranata ekonomi distribusi, dan peran
pranata ekonomi konsumsi.
a) Peran pranata ekonomi produksi
Kegiatan produksi adalah mengolah & menghasilkan barang yg meliputi
unsur-unsur bahan dasar, modal, tenaga kerja, dan manajemen. Beberapa
aturan dalam pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia, antara lain,
dilakukan dengan cara-cara berikut ini.
(1) Monopoli pemerintah; dilakukan oleh negara untuk menjamin ketersediaan suatu sumber produksi
(2) Monopoli swasta; dilakukan oleh pihak swasta melalui perjanjian atau
kontrak kerja khusus dengan pemerintah untuk memanfaatkan suatu sumber
daya alam tertentu. Contoh monopoli swasta adalah monopoli garam,
monopoli cengkih, Hak Pengusahaan Hutan, dan lainlain.
(3) Kuota; dilakukan pemerintah untuk membatasi produksi dan konsumsi
terhadap suatu barang atau sumber alam. Hal ini dimaksudkan agar
produksi dan pengolahan sumber daya alam tersebut dapat dilakukan dengan
hemat atau tidak berlebihan.
(4) Proteksi; dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi produk lokal
dari persaingan produk luar negeri (impor). Dalam hal ini, pemerintah
memandang bahwa produk lokal akan kalah bersaing dengan produk impor,
sehingga pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk impor
tertentu atau bahkan melarangnya sama sekali.
b) Peran pranata ekonomi distribusi
Distribusi merupakan kegiatan menyalurkan barang hasil produksi ke
konsumen untuk dikonsumsi.. Melalui distribusi pulalah, arus perdagangan
dapat berjalan.
c) Peran pranata ekonomi konsumsi
Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau menggunakan nilai guna suatu barang atau jasa.
Berdasarkan peran-peran tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa peran atau
fungsi pokok pranata ekonomi adalah mengatur kegiatan produksi,
distribusi, dan konsumsi agar dapat berjalan dengan lancar, tertib dan
dapat memberi hasil yang maksimal dengan meminimalisasi dampak negatif
yang ditimbulkan.
d . Pranata Pendidikan
1 ) Pengertian Pendidikan
Adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha untuk mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
atau pelatihan. Di Indonesia, pendidikan dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan pendidikan luar sekolah
(pendidikan nonformal).
2) Peran atau Fungsi Pranata Pendidikan
Pranata pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan manusia agar mampu
mencari nafkah hidup saat ia dewasa kelak. Persiapan-persiapan yang
dimaksud, meliputi kegiatan dalam:
a) meningkatkan potensi, kreativitas, dan kemampuan diri;
b) membentuk kepribadian dan pola pikir yang logis dan sistematis; serta
c) mengembangkan sikap cinta tanah air.
Dengan pranata pendidikan, diharapkan hasil sosialisasi akan membentuk
sikap mental yang cocok dengan kehidupan di masa sekarang dan yang akan
datang.
e . Pranata Politik
1 ) Pengertian Politik
Politik adalah pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan,
meliputi segala urusan dan tindakan atau kebijakan mengenai pemerintahan
negara atau terhadap negara lain.
Pranata politik adalah serangkaian peraturan, baik tertulis ataupun
tidak tertulis yang berfungsi mengatur semua aktivitas politik dalam
masyarakat atau negara. Di Indonesia, pranata politik tersusun secara
hierarki, berikut ini.
(1) Pancasila (2) Undang-Undang Dasar 1945 (3) Ketetapan MPR
(4) Undang-Undang (5) Peraturan Pemerintah (6) Kep pres
(7) Keputusan Menteri (8)) Peraturan Daerah
Pranata-pranata tersebut diciptakan utk mengatur penyelenggaraan pemerintahan negara.
2 ) Fungsi atau Peran Pranata Politik
a) Pelindung dan penyaluran aspirasi/hak asasi manusia; sesuai dengan
UUD’45, bahwa masyarakat mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam
hukum dan pemerintahan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka rakyat
berhak berpolitik sejauh tetap mematuhi kaidah-kaidah politik yang telah
ditetapkan.
b) Memberikan pembelajaran politik bagi masyarakat; dalam hal ini rakyat
secara langsung mulai dilibatkan dalam proses penentuan kebijakan.
Rakyat ditempatkan sebagai subjek dan bukannya objek kebijakan. Dengan
cara ini, akan dapat tercapai keberhasilan pembangunan dan meningkatkan
stabilitas sosial.
c) Meningkatkan kesadaran berpolitik di kalangan masyarakat; hal ini
terlihat dari meningkatnya keikutsertaan masyarakat dalam pemilu,
BAB IV PENGENDALIAN PENYIMPANGAN SOSIAL
A. Pengendalian Sosial (PS)
PS merupakan tindakan ‘pengawasan’ terhadap kegiatan atau perilaku
anggota-anggota masyarakat (kelompok) agar tidak menyimpang dari norma
dan nilai sosial yang berlaku. Pengendalian sosial (social control)
adalah cara dan proses pengawasan yang direncanakan atau tidak
direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, mendidik, atau bahkan
memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma dan nilai yang berlaku.
Pengendalian sosial berproses pada tiga pola, yaitu pengendalian sosial
kelompok terhadap kelompok, kelompok terhadap anggota-anggotanya, dan
pengendalian pribadi terhadap pribadi
B. Macam Macam PS
1. Berdasarkan Waktu Pelaksanaannya
a. Tindakan preventif;
yaitu tindakan yang dilakukan oleh pihak berwajib sebelum penyimpangan
sosial terjadi agar suatu tindak pelanggaran dapat diredam atau dicegah.
Contohnya kegiatan penyuluhan yang dilakukan oleh dinas-dinas terkait
tentang bahaya narkoba.
b. Tindakan represif;
yaitu suatu tindakan aktif yang dilakukan pihak berwajib pada saat
penyimpangan sosial terjadi agar penyimpangan yang sedang terjadi dapat
dihentikan. Contohnya guru memberi hukuman kepada siswa yang terlambat
dan tidak tertib di sekolah. Hukuman ini dimaksudkan agar tindakan
penyimpangan siswa tidak berulang lagi.
c. Tindakan kuratif; tindakan ini diambil setelah terjadinya tindak
penyimpangan sosial. Tindakan ini ditujukan untuk memberikan penyadaran
kepada para pelaku penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya dan
mau serta mampu memperbaiki kehidupannya, sehingga di kemudian hari
tidak lagi mengulangi kesalahannya. Contohnya memasukkan para pencandu
narkoba ke tempat rehabilitasi untuk mendapatkan pembinaan agar para
pelaku tidak akan mengulangi perbuatannya kembali
2. Berdasarkan Sifatnya
a. Pengendalian internal;
pengendalian sosial jenis ini dilakukan oleh penguasa atau pemerintah
sebagai pemegang kekuasaan (the rulling class) untuk menjalankan roda
pemerintahannya melalui strategi-strategi politik. Strategi-strategi
politik tersebut dapat berupa aturan perundang-undangan.
b. Pengendalian eksternal;
Pengendalian sosial jenis ini dilakukan oleh rakyat kepada para
penguasa. Hal ini dilakukan karena dirasa adanya penyimpangan
penyimpangan tertentu yang dilakukan oleh kalangan penguasa. PS jenis
ini dapat dilakukan melalui aksi-aksi demonstrasi/ unjuk rasa, melalui
pengawasan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), ataupun lewat DPRD
3. Berdasarkan Cara atau Perlakuan Pengendalian Sosial
a. Tindakan persuasif;
yaitu tindakan pencegahan yang dilakukan dengan cara pendekatan secara damai tanpa
paksaan. Bentuk pengendalian ini, misalnya berupa ajakan atau
penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal yang
menyimpang. Contohnya seorang guru BP menasehati dan menghimbau kepada
siswa untuk tidak merokok.
b. Tindakan coersif;
yaitu tindakan pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara pemaksaan.
Dalam hal ini, bentuk pemaksaan diwujudkan dengan pemberian sanksi
atau hukuman terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran sesuai
dengan kadar penyimpangannya. Contohnya penertiban PKL secara paksa yang
dilakukan oleh petugas Satpol PP.
4. Berdasarkan Pelaku Pengendalian Sosial
a. Pengendalian pribadi; yaitu pengaruh yang datang dari orang atau
tokoh tertentu (panutan). Pengaruh ini dapat bersifat baik atau pun
buruk.
b. Pengendalian institusional; yaitu pengaruh yang ditimbulkan dari
adanya suatu institusi atau lembaga. Pola perilaku lembaga tersebut
tidak hanya mengawasi para anggota lembaga itu saja, akan tetapi juga
mengawasi dan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di sekitar
lembaga tersebut berada. Misalnya kehidupan para santri di pondok
pesantren akan mengikuti aturan, baik dalam hal pakaian, tutur sapa,
sikap, pola pikir, pola tidur, dan sebagainya. Dalam hal ini, pengawasan
dan pengaruh dari pondok pesantren tersebut tidak hanya terbatas pada
para santrinya saja, namun juga kepada masyarakat di sekitar pondok
pesantren.
c. Pengendalian resmi;
yaitu pengendalian atau pengawasan sosial yang dilakukan oleh lembaga
resmi negara sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku dengan
sanksi yang jelas dan mengikat. Pengendalian resmi dilakukan oleh aparat
negara, seperti kepolisian, satpol PP, kejaksaan, ataupun kehakiman
untuk mengawasi ketaatan warga masyarakat terhadap hukum yang telah
ditetapkan.
d. Pengendalian tidak resmi;
yaitu pengendalian atau pengawasan sosial yang dilakukan tanpa rumusan
aturan yang jelas atau tanpa sanksi hukum yang tegas. Meskipun demikian,
pengendalian tidak resmi juga memiliki efektivitas dalam mengawasi atau
mengendalikan perilaku masyarakat. Hal ini dikarenakan sanksi yang
diberikan kepada pelaku penyimpangan berupa sanksi moral dari masyarakat
lain, misalnya dikucilkan atau bahkan diusir dari lingkungannya.
Pengendalian tidak resmi dilakukan oleh tokoh masyarakat, tokoh adat,
ataupun tokoh agama yang memiliki kharisma dan dipandang sebagai panutan
masyarakat.
C. Tahapan Pengendalian Sosial
1. Tahap Sosialisasi atau Pengenalan
Merupakan tahap awal proses pengendalian sosial. Pada tahap ini,
masyarakat dikenalkan pada bentuk-bentuk penyimpangan sosial beserta
sanksi-sanksinya. Pengenalan tersebut dimaksudkan agar masyarakat
menyadari efekdan sanksi yang akan diterimanya bila mereka melakukan
suatu tindakan penyimpangan sosial. Di dalam hal ini, tahap sosialisasi
bersifat preventif yang bertujuan mencegah perilaku penyimpangan sosial.
2. Tahap Penekanan Sosial
Tahap penekanan sosial dilakukan untuk mendukung terciptanya kondisi
sosial yang stabil. Pada tahap ini telah diserta dengan pelaksanaan
sanksi atau hukuman kepada para pelaku tindakan penyimpangan. Dengan
adanya sanksi yang menekan tersebut, diharapkan masyarakat segan dan
tidak mau melakukan berbagai perbuatan yang menyimpang.
3. Tahap Pendekatan Kekuasaan/Kekuatan
Pada tahap ini, terlihat adanya pihak pelaku pengendalian sosial dan
pihak yang dikendalikan. Tahap ini dilakukan jika tahaptahap yang lain
tidak mampu mengarahkan tingkah laku manusia sesuai dengan norma atau
nilai yang berlaku. Berdasarkan pelakunya,tahap pendekatan kekuasaan
atau kekuatan ini dapat dibedakan,menjadi berikut ini.
a. Pengendalian kelompok terhadap kelompok; misalnya anggota Kepolisian Sektor
Margasari Selatan mengawasi keamanan dan ketertiban masyarakat di kec Margasri
b. Pengendalian kelompok terhadap anggotanya; misalnya bapak/ibu guru di sekolah
mengendalikan dan membimbing siswa/siswi yang belajar di sekolah itu.
c. Pengendalian pribadi terhadap pribadi lain; misalnya seorang ayah yang mendidik
dan merawat anaknya, atau seorang kakak yang menjaga adiknya.
D. Bentuk Bentuk Pengendalian Sosial
1. Gosip
Gosip adalah kabar yang tidak berlandaskan fakta. Gosip disebut juga
kabar burung atau desas-desus. Suatu gosip tersebar di masyarakat jika
pernyataan secara terbuka tidak dapat dilontarkan secara langsung atau
belum menemukan bukti-bukti yang sah. Pada umumnya, gosip merupakan
kritik tertutup yang ditujukan pada seseorang atau lembaga yang
melakukan penyimpangan sosial. Dalam hal ini, orang atau lembaga yang
terkena gosip akan berusaha memperbaiki tingkah lakunya, jika tidak,
maka orang atau lembaga tersebut akan dicemooh, dikucilkan, dan merasa
terisolir dalam kehidupan bermasyarakatnya.
2. Teguran
Teguran adalah kritik sosial yang bersifat terbuka, baik lisan atau pun
tertulis, terhadap orang atau lembaga yang melakukan tindak
penyimpangan sosial. Teguran dilakukan secara langsung kepada pelaku
tindak penyimpangan agar pelaku tindak penyimpangan tersebut menyadari
perbuatannya dan dapat segera menghentikan tingkah laku menyimpangnya
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
E. Fungsi Pengendalian Sosial
1. Mempertebal keyakinan anggota masyarakat akan
kebaikan norma-norma kemasyarakatan.
2. Memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang taat pada norma-norma kemasyarakatan.
3. Mengembangkan rasa malu dalam diri atau jiwa anggota masyarakat bila
mereka menyimpang atau menyeleweng dari norma-norma kemasyarakatan dan
nilai-nilai yang berlaku.
4. Menimbulkan rasa takut.
5. Menciptakan sistem hukum, yaitu sistem tata tertib dengan sanksi yang tegas bagi para pelanggar.
F. Peranan Pranata Sosial/Lembaga Sosial dlm Pengendalian
Pengendalian sosial pada dasarnya adalah pengawasan. Pengawasan ini
dilakukan secara individual maupun kelompok. Agar dapat dilakukan secara
efektif, diperlukan pranata/lembaga khusus yang mengatur perilaku
warga masyarakat. Dalam setiap pranata terdapat aparat atau pihak yang
diberi wewenang untuk mengawasi/mengendalikan orang-orang yang
berperilaku menyimpang. Beberapa pranata social/lembaga sosial yang ada
dalam masyarakat kita adalah:
1. Kepolisian
Polisi itu aparat resmi pemerintah. Tugasnya antara lain memelihara
ketertiban & mengayomi masyarakat. Polisi berwenang untuk menangkap
dan menahan setiap anggota masyarakat yang dituduh atau dicurigai
melakukan kejahatan atau meresahkan masyarakat
2. Pengadilan
Ini juga aparat pemerintah. Unsur-unsur yang ternmasuk aparat pengadilan
antara lain, hakim, jaksa, panitera, polisi, dan pengacara. Pihak
pengadilan bertugas mengadili orang yang dituduh atau dicurigai
melakukan kejahatan atau pelanggaran hukum. Jaksa bertugas menuntut
plaku agar dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hakim
bertugas menetapkan dan menjatuhkan putusan berdasarkan data yang
terungkap di pengadilan. Pengacara atau pembela bertugas mendampingi
pelaku untuk memberikan pembelaan.
3. Tokoh Adat
Adat berkaitan dengan kebiasaan yang bersifat magis religius tentang
nilai-nilai budaya masyarakat tertentu. Tokoh adat berperan
mengendalikan sikap dan perilaku warga masyarakat agar sesuai dengan
norma-norma adat. Bentuk pengendalian bisa berupa penjatuhan sanksi
yakni denda, teguran, atau pengucilan dari lingkungan adat.
4. Tokoh Agama
Tokoh agama adalah seseorang yang memiliki pemahaman, penghayatan, dan
pengamalan yang luas tentang agamanya. Misalnya ulama, uztad, pastor,
pendeta, kyai, biksu dan sebagainya.
5. Tokoh Masyarakat
Setiap orang yang dianggap berpengaruh dalam kehidupan sosial suatu
kelompok masyarakat sering disebut tokoh masyarakat. Termasuk di
dalamnya adalah orang-orang yang terpandang atau terkemuka dalam
masyarakat. Misalnya para pejabat atau penguasa, cendekiawan, tetua
adat, dan sebagainya.
BAB V ANGKATAN KERJA DAN TENAGA KERJA SEBAGAI SUMBER DAYA DALAM KEGIATAN EKONOMI
A. Ketenagakerjaan
1. Tenaga Kerja
Setiap hari kalian melihat orang tuamu bekerja. Mereka bekerja untuk
mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Orang tua
kalian yang bekerja disebut tenaga kerja. Lalu siapa saja yang termasuk
dalam tenaga kerja? Menurut UU No. 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah
setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan
atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Tenaga
kerja dapat juga diartikan sebagai penduduk yang berada dalam batas usia
kerja. Tenaga kerja disebut juga golongan produktif.
Tenaga kerja dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu angkatan kerja dan
bukan angkatan kerja. Penduduk yang termasuk angkatan kerja terdiri atas
orang yang bekerja dan menganggur. Jika ada saudara kalian yang sedang
mencari pekerjaan, maka ia termasuk dalam angkatan kerja. Sedangkan
golongan bukan angkatan kerja terdiri atas anak sekolah, ibu rumah
tangga, dan pensiunan. Golongan bukan angkatan kerja ini jika mereka
mendapatkan pekerjaan maka termasuk angkatan kerja. Sehingga golongan
bukan angkatan kerja disebut juga angkatan kerja potensial. Pembagian
tenaga kerja jika digambarkan dalam bentuk bagan akan tampak seperti
berikut.
Secara umum tenaga kerja dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani.
a. Tenaga Kerja Rohani
Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang dalam kegiatan kerjanya
lebih banyak menggunakan pikiran yang produktif dalam proses produksi.
Contohnya manager, direktur, dan jenisnya.
b . Tenaga Kerja Jasmani
Tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang dalam kegiatannya lebih
banyak mencakup kegiatan pelaksanaan yang produktif dalam produksi.
Tenaga kerja jasmani terbagi dalam tiga jenis yaitu tenaga kerja
terdidik, tenaga kerja terlatih, dan tenaga kerja tidak terdidik.
1) Tenaga kerja terdidik (skilled labour)
Tenaga kerja terdidik (skilled labour) adalah tenaga kerja yang
memerlukan pendidikan tinggi. Misalnya guru, dokter, dan sebagainya.
2) Tenaga kerja terlatih (trained labour)
Tenaga kerja terlatih (trained labour) adalah tenaga kerja yang
memerlukan pelatihan dan pengalaman terlebih dahulu. Misalnya sopir,
montir, dan sebagainya.
3) Tenaga kerja tak terdidik (unskilled labour)
Tenaga kerja tak terdidik (unskilled labour) adalah tenaga kerja yang
tidak memerlukan pelatihan ataupun pendidikan khusus. Misalnya kuli
bangunan dan buruh gendong.
2. Angkatan Kerja
Coba kalian bandingkan dua contoh berikut ini.
Berdasarkan contoh di atas, manakah yang termasuk angkatan kerja?
Kedua contoh di atas termasuk angkatan kerja. Dengan demikian, angkatan
kerja dapat didefinisikan sebagai penduduk yang berada dalam usia kerja
yang bekerja ataupun belum bekerja namun siap untuk bekerja maupun
sedang mencari pekerjaan. Angkatan kerja terdiri atas orang yang bekerja
dan menganggur. Penduduk yang bekerja adalah penduduk yang melakukan
pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa untuk memperoleh
penghasilan. Adapun pengangguran adalah orang yang tidak bekerja dan
sedang mencari pekerjaan. Pengangguran merupakan masalah yang sering
dihadapi oleh pemerintah.
Jenis-jenis pengangguran dapat dilihat berdasarkan penyebab dan sifatnya.
a. Jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, pengangguran dapat dibedakan menjadi
pengangguran konjungtur, struktural, friksional, musiman, teknologi, dan
voluntary.
1 ) Pengangguran konjungtur
Pengangguran konjungtur (cyclical unemployment) adalah pengangguran yang
diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan
perekonomian. Pada waktu kegiatan ekonomi mengalami kemunduran,
perusahaan-perusahaan harus mengurangi kegiatan produksi. Hal ini
berarti jam kerja akan dikurangi, sebagian mesin produksi tidak
digunakan, dan sebagian tenaga kerja diberhentikan. Akibatnya banyak
tenaga kerja yang tidak dapat bekerja lagi.
2 ) Pengangguran struktural
Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi selalu diikuti oleh perubahan
struktur dan corak kegiatan ekonomi. Misalnya terjadi pergeseran dari
sektor pertanian menjadi sektor industri. Akibatnya semakin banyak
jumlah industri pengolahan, sedangkan kegiatan pertanian semakin
berkurang. Bagi tenaga kerja di bidang pertanian yang tidak dapat
bekerja di bidang industri karena keterbatasan keahlian akan menganggur.
Pengangguran tersebut dinamakan pengangguran struktural.
3 ) Pengangguran friksional
Pengangguran jenis ini bersifat sementara dan terjadi karena adanya
kesenjangan antara pencari kerja dan lowongan kerja. Kesenjangan ini
dapat berupa kesenjangan waktu, informasi maupun jarak. Pengangguran
friksional bukanlah sebagai akibat dari ketidakmampuan memperoleh
pekerjaan, melainkan sebagai akibat dari keinginan untuk mencari
pekerjaan yang lebih baik. Di dalam proses mencari kerja yang lebih baik
adakalanya mereka harus menganggur. Masa mencari kerja/menganggur
disebut dengan pengangguran friksional.
4 ) Pengangguran musiman
Pengangguran musiman adalah jenis pengangguran yang terjadi secara
berkala, misalnya pengangguran pada saat selang musim tanam dan musim
panen. Di sektor pertanian pekerjaan yang paling padat adalah pada saat
musim tanam dan musim panen, sehingga saat selang antara musim tanam dan
panen banyak terjadi pengangguran. Pengangguran jenis ini disebut
pengangguran musiman.
5 ) Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi karena adanya
perubahan tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Misalnya dahulu petani
mengolah sawah dengan tenaga manusia, namun sekarang diganti dengan
tenaga traktor. Adanya penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin
dapat menyebabkan pengangguran teknologi.
6 ) Pengangguran voluntary
Pengangguran voluntary terjadi karena ada orang yang sebenarnya masih
dapat bekerja, namun dengan sukarela ia berhenti bekerja. Hal ini dapat
terjadi karena ia telah mendapatkan warisan atau hal-hal lain yang
membuat seseorang tidak perlu bekerja.
b . Jenis Pengangguran Berdasarkan Sifatnya
1 ) Pengangguran terbuka
Pengangguran terbuka adalah angkatan kerja yang benar-benar tidak
mempunyai pekerjaan. Pengangguran jenis ini terjadi karena kurangnya
lapangan pekerjaan, tidak mau bekerja, atau adanya ketidakcocokan antara
lowongan pekerjaan dengan latar belakang pendidikan.
2 ) Setengah menganggur
Setengah menganggur adalah angkatan kerja yang bekerja di bawah jam
kerja normal. Ada juga yang mendefinisikan setengah menganggur sebagai
angkatan kerja yang kurang dari 35 jam seminggu.
3 ) Pengangguran terselubung
Pengangguran terselubung adalah angkatan kerja yang bekerja tidak
optimal sehingga terjadi kelebihan tenaga kerja. Misalnya Pak Nyoman
membuka usaha bengkel sepeda motor. Pak Nyoman dibantu oleh 1 orang
anaknya. Sebenarnya tenaga kerjanya sudah cukup. Namun ada anak pamannya
belum bekerja, maka ia ikut membantunya. Anak pamannya Pak Nyoman
disebut pengangguran terselubung.
c . Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja adalah jumlah lapangan kerja yang tersedia bagi
masyarakat. Kesempatan kerja ini erat hubungannya dengan kemampuan
perusahaan-perusahaan dalam menyediakan atau menyerap tenaga kerja.
Semakin banyak jumlah kesempatan kerja yang tersedia semakin banyak
tenaga kerja yang terserap (dipekerjakan). Di Indonesia masalah
kesempatan kerja ini dijamin dalam UUD 1945 pasal 27 ayat (2) yang
berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak”. Berdasarkan bunyi UUD 1945 pasal 27 ayat (2) di atas, jelas
bahwa pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas penciptaan kesempatan
kerja serta perlindungan terhadap tenaga kerja. Hal ini dimaksudkan
agar melalui pekerjaannya setiap warga negara dapat hidup layak.
Kesempatan kerja disebut juga lowongan pekerjaan. Pernahkah kalian
membaca koran atau informasi lain mengenai lowongan kerja/kesempatan
kerja? Informasi mengenai tersedianya kesempatan kerja pada suatu sektor
kegiatan ekonomi dapat diperoleh melalui orang per orang, melalui iklan
di surat kabar atau majalah, atau dapat juga diperoleh melalui
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Meskipun jumlah lowongan kerja
yang kalian lihat di koran atau majalah jumlahnya banyak, namun hal itu
belum mampu menampung semua angkatan kerja yang membutuhkan pekerjaan.
Hal itu disebabkan karena jumlah pencari kerja jauh lebih banyak
dibanding lowongan pekerjaan yang tersedia.
B. Masalah Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja di Indonesia
Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi suatu
negara. Akan tetapi tenaga kerja juga dapat menjadi faktor penghambat
apabila tenaga kerja yang ada mendatangkan berbagai macam masalah.
Ketenegakerjaan di Indonesia masih kurang optimal dalam mendorong
pembangunan ekonominya. Masih banyak permasalahan dalam dunia
ketenegakerjaan di Indonesia. Berikut ini berbagai bentuk masalah
ketenagakerjaan yang sering dihadapi oleh pemerintah.
1. Tingkat Pengangguran yang Tinggi
Pengangguran merupakan salah satu masalah tenaga kerja yang berpengaruh
besar bagi perekonomian Indonesia. Di Indonesia jumlah angka
pengangguran selalu mengalami peningkatan. Hal ini karena disebabkan
oleh beberapa faktor. Pengangguran dapat terjadi pada saat pertambahan
jumlah penduduk lebih besar daripada pertambahan lapangan kerja.
Akibatnya tidak semua penduduk produktif dapat ditampung oleh lapangan
kerja yang ada. Orang-orang yang tidak bisa bekerja ini akan menjadi
pengangguran. Terjadinya pengangguran juga disebabkan karena rendahnya
kualitas tenaga kerja. Mereka tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja
yang memiliki kualitas yang lebih baik. Akibatnya orang-orang yang
mempunyai kualitas rendah akan menganggur. Selain itu masalah
pengangguran juga dapat disebabkan karena lowongan kerja yang ada tidak
sesuai dengan latar belakang pendidikan. Orang-orang yang mempunyai
latar belakang berbeda dengan yang diharapkan perusahaan, tidak dapat
bekerja. Akibatnya pengangguran bertambah.
Kondisi perekonomian yang tidak baik juga dapat menjadi pemicu
terjadinya pengangguran. Terjadinya krisis ekonomi menyebabkan banyak
perusahaan-perusahaan atau industri yang gulung tikar (bangkrut). Banyak
tenaga kerja yang diberhentikan dari pekerjaannya.
Orang-orang inilah yang kemudian menambah jumlah angka pengangguran.
Tingginya jumlah pengangguran di Indonesia dapat menimbulkan berbagai
dampak negatif baik bagi masyarakat maupun bagi negara. Berikut ini
beberapa dampak dari pengangguran.
a. Tingkat kesejahteraan menurun.
b. Angka kriminalitas (kejahatan) meningkat, misalnya pencurian, penjambretan, dan penodongan.
c. Kualitas hidup menurun, dengan ditandai lingkungan yang kotor (tidak sehat).
d. Produktivitas masyarakat menurun.
e. Menurunnya tingkat kesehatan dan kekurangan pangan.
f. Peningkatan jumlah anak jalanan, kaum gelandangan, pengamen di tempat-tempat umum, dan lain sebagainya.
g. Menurunnya pendapatan negara dari penerimaan pajak penghasilan.
h. Bertambahnya biaya sosial negara.
2. Meningkatnya Angkatan Kerja
Jumlah angkatan kerja di Indonesia terus meningkat seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk. Semakin besar jumlah penduduk maka angkatan
kerja jadi semakin besar. Hal itu dapat menjadi beban tersendiri bagi
perekonomian. Mengapa demikian? Karena jika meningkatnya angkatan kerja
yang tidak diimbangi dengan bertambahnya lapangan kerja akan menyebabkan
masalah pengangguran. Orang-orang yang menganggur ini secara otomatis
tidak akan memperoleh penghasilan. Akibatnya untuk memenuhi kebutuhan
pun mereka tidak bisa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan
kesejahteraannya menurun. Hal tersebut sangat berlawanan dengan harapan
pemerintah, yaitu semakin banyaknya jumlah angkatan kerja diharapkan
dapat menjadi pendorong pembangunan ekonomi.
3. Mutu Tenaga Kerja yang Rendah
Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia berpendidikan rendah dengan
keterampilan dan keahlian yang kurang memadai, sehingga belum memiliki
keterampilan dan pengalaman untuk memasuki dunia kerja. Dengan demikian
mutu tenaga kerja di Indonesia tergolong rendah. Mutu tenaga kerja yang
rendah mengakibatkan kesempatan kerja semakin kecil dan terbatas.
Keterampilan dan pendidikan yang terbatas akan membatasi ragam dan
jumlah pekerjaan.
4 . Persebaran Tenaga Kerja yang Tidak Merata
Persebaran tenaga kerja di Indonesia tidak merata. Di daerah Pulau Jawa
tenaga kerja menumpuk sementara di luar Pulau Jawa kekurangan tenaga
kerja. Kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak bahwa di Pulau Jawa
banyak pengangguran, sedangkan di luar Pulau Jawa pembangunan akan
terhambat karena kekurangan tenaga kerja untuk mengolah sumber daya alam
yang ada.
C. Peran Pemerintah Menanggulangi Masalah Ketenagakerjaan
Masalah ketenagakerjaan di Indonesia cukup banyak dan menyangkut
berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, sosial, budaya, politik,
hukum, dan lain sebagainya. Hal ini perlu penanganan yang serius dari
pemerintah ataupun swasta. Upaya pemerintah dalam mengatasi masalah
ketenagakerjaan diwujudkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan.
1. Meningkatkan mutu tenaga kerja
Pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu tenaga kerja dengan cara
memberikan pelatihanpelatihan bagi tenaga kerja. Pelatihan kerja
diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan
mengembangkan kemampuan dan produktivitas tenaga kerja. Dengan adanya
pelatihan kerja diharapkan dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja
sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja luar negeri.
2. Memperluas kesempatan kerja
Pemerintah berupaya untuk memperluas kesempatan kerja dengan cara berikut ini.
a. Mendirikan industri atau pabrik yang bersifat padat karya.
b. Mendorong usaha-usaha kecil menengah.
c. Mengintensifkan pekerjaan di daerah pedesaan.
d. Meningkatkan investasi (penanaman modal) asing.
3. Memperluas pemerataan lapangan kerja
Pemerintah mengoptimalkan informasi pemberitahuan lowongan kerja kepada
para pencari kerja melalui pasar kerja. Dengan cara ini diharapkan
pencari kerja mudah mendapatkan informasi lowongan pekerjaan.
4. Memperbaiki sistem pengupahan
Pemerintah harus memerhatikan penghasilan yang layak bagi pekerja. Untuk
itu pemerintah menetapkan upah minimum regional (UMR). Dengan penetapan
upah minimum berarti pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari
upah minimum yang ditetapk
BAB VI. PELAKU-PELAKU EKONOMI DALAM SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA
Setiap negara mempunyai permasalahan ekonomi dan setiap negara
mempunyai cara tersendiri dalam mengatasinya. Ada negara yang dengan
tegas menentukan bahwa pemerintah yang harus mengatasi setiap masalah
ekonomi, dan pemerintahlah pula yang mengatur semua kegiatan ekonomi.
Sebaliknya ada negara yang berpendapat bahwa dalam mengatasi setiap
masalah ekonomi dan mengatur semua kegiatan ekonomi diserahkan pada
pihak swasta. Selain itu ada juga negara yang mencari jalan tengah
antara keduanya. Bagaimana setiap negara menjawab
permasalahan-permasalahan ekonomi menunjukkan sistem ekonomi yang
dianutnya. Dalam rangka menjalankan sistem ekonominya, negara akan
membutuhkan pelakupelaku ekonomi. Pada pembahasan kali ini akan
dijelaskan mengenai bagaimana bentuk-bentuk sistem ekonomi yang ada di
dunia dan siapa saja pelaku-pelaku ekonominya.
A. Sistem Ekonomi
1. Pengertian Sistem Ekonomi
Pada saat semester 1, kalian telah mempelajari mengenai kelangkaaan
sumber daya. Kelangkaan timbul sebagai akibat dari ketidakseimbangan
antara keinginan manusia untuk mendapatkan barang dan jasa dengan
kemampuan faktor-faktor produksi menghasilkan barang dan jasa untuk
memenuhi keinginan tersebut. Hal tersebut menjadi masalah pokok ekonomi
di setiap negara. Para ahli ekonomi membagi masalah pokok ekonomi yang
dihadapi masyarakat ke dalam tiga persoalan, yaitu mengenai hal-hal
berikut ini.
a. Apakah barang dan jasa yang harus diproduksi? (What).
b. Bagaimanakah caranya memproduksi barang dan jasa tersebut? (How).
c. Untuk siapakah barang dan jasa tersebut diproduksi? (For Whom).
Jawaban setiap negara atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan
sistem ekonomi yang dianutnya. Dengan demikian, apakah yang dimaksud
sistem ekonomi? Sistem ekonomi adalah suatu aturan dan tata cara untuk
mengoordinasikan perilaku masyarakat (konsumen, produsen, pemerintah,
dan sebagainya) dalam menjalankan kegiatan ekonomi untuk mencapai suatu
tujuan. Setiap negara mempunyai sistem perekonomian yang berbeda-beda.
Hal ini dipengaruhi selain oleh ideologi suatu bangsa juga dikarenakan
perbedaan budaya dan pandangan politik di setiap negara. Sistem
perekonomian yang dianut bangsa Indonesia berbeda dengan sistem
perekonomian yang dianut negara Malaysia, Thailand, Australia, Inggris,
Italia dan negara-negara di Afrika. Perbedaan-perbedaan sistem ekonomi
tersebut, pada dasarnya mengarah pada tujuan-tujuan yang sama berikut
ini.
a. Mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
b. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
c. Mencapai kestabilan ekonomi dengan kesempatan kerja yang luas.
d. Mengurangi jumlah pengangguran.
e. Pemerataan pendapatan di antara berbagai golongan dan lapisan masyarakat.
2. Macam-Macam Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi yang dianut berbagai negara merupakan hasil perkembangan
sejarah serta tanggapan suatu bangsa atas pergolakan zaman. Secara umum
sistem ekonomi dalam perekonomian suatu negara dapat dibedakan menjadi
tiga macam, yaitu sistem ekonomi liberal, sistem ekonomi sosialis, dan
sistem ekonomi campuran.
a. Sistem Ekonomi Liberal
Sistem ekonomi liberal disebut juga sistem ekonomi pasar bebas atau
sistem ekonomi laissez faire. Sistem ekonomi liberal adalah sistem
perekonomian yang memberikan kebebasan sepenuhnya dalam segala bidang
perekonomian kepada masing-masing individu untuk memperoleh keuntungan
yang sebesar-besarnya. Filsafat atau ideologi yang menjadi landasan
kepada sistem ekonomi liberal adalah bahwa setiap unit pelaku kegiatan
ekonomi diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang akan
memberikan keuntungan kepada dirinya, maka pada waktu yang sama
masyarakat akan memperoleh keuntungan juga. Dengan demikian setiap orang
akan bebas bersaing dengan orang lain dalam bidang ekonomi. Adam Smith
dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nation (1776) juga menunjukkan
bahwa kebebasan berusaha didorong oleh kepentingan ekonomi pribadi
merupakan pendorong kuat menuju kemakmuran bangsa. Hal ini menunjukkan
bahwa sistem pasar bebas ini dapat menciptakan efisiensi yang cukup
tinggi dalam mengatur kegiatan perekonomian. Mungkin kalian akan
bertanya, bagaimanakah peran pemerintah dalam sistem ekonomi liberal?
Pemerintah sama sekali tidak campur tangan dan tidak pula berusaha
memengaruhi kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat. Seluruh sumber
daya yang tersedia dimiliki dan dikuasai oleh anggota-anggota masyarakat
dan mereka mempunyai kebebasan penuh untuk menentukan bagaimana
sumber-sumber daya tersebut akan digunakan.
Gambaran secara menyeluruh mengenai sistem ekonomi liberal, dapat kalian
perhatikan ciri-ciri sistem ekonomi liberal berikut ini.
1) Setiap orang bebas memiliki alat-alat produksi.
2) Adanya kebebasan berusaha dan kebebasan bersaing.
3) Campur tangan pemerintah dibatasi.
4) Para produsen bebas menentukan apa dan berapa yang akan diproduksikan.
5) Harga-harga dibentuk di pasar bebas.
6) Produksi dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan laba serta semua kegiatan ekonomi didorong oleh prinsip laba.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, sistem ekonomi liberal memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan sistem ekonomi liberal
1) Setiap individu diberi kebebasan memiliki kekayaan dan sumber daya produksi.
2) Individu bebas memilih lapangan pekerjaan dan bidang usaha sendiri.
3) Adanya persaingan menyebabkan kreativitas dari setiap individu dapat berkembang.
4) Produksi barang dan jasa didasarkan pada kebutuhan masyarakat.
Kekurangan sistem ekonomi liberal
1) Muncul kesenjangan yang besar antara yang kaya dan miskin.
2) Mengakibatkan munculnya monopoli dalam masyarakat.
3) Kebebasan mudah disalahgunakan oleh yang kuat untuk memeras pihak yang lemah.
4) Sulit terjadi pemerataan pendapatan.
b . Sistem Ekonomi Sosialis
Sistem ekonomi sosialis disebut juga sistem ekonomi terpusat. Mengapa
disebut terpusat? Karena segala sesuatunya harus diatur oleh negara,
dan dikomandokan dari pusat. Pemerintahlah yang menguasai seluruh
kegiatan ekonomi. Sistem perekonomian sosialis merupakan sistem
perekonomian yang menghendaki kemakmuran masyarakat secara merata dan
tidak adanya penindasan ekonomi. Untuk mewujudkan kemakmuran yang merata
pemerintah harus ikut campur dalam perekonomian. Oleh karena itu hal
tersebut mengakibatkan potensi dan daya kreasi masyarakat akan mati dan
tidak adanya kebebasan individu dalam melakukan kegiatan ekonomi.
Dasar yang digunakan dalam sistem ekonomi sosialis adalah ajaran Karl
Marx, di mana ia berpendapat bahwa apabila kepemilikan pribadi
dihapuskan maka tidak akan memunculkan masyarakat yang berkelas-kelas
sehingga akan menguntungkan semua pihak. Negara yang menganut sistem ini
seperti Rusia, Kuba, Korea Utara, dan negara komunis lainnya. Sistem
ekonomi sosialis mempunyai ciri-ciri berikut ini.
1) Semua sumber daya ekonomi dimiliki dan dikuasai oleh negara.
2) Seluruh kegiatan ekonomi harus diusahakan bersama. Semua perusahaan milik negara sehingga tidak ada perusahaan swasta.
3) Segala keputusan mengenai jumlah dan jenis barang ditentukan oleh pemerintah.
4) Harga-harga dan penyaluran barang dikendalikan oleh negara.
5) Semua warga masyarakat adalah karyawan bagi negara.
Seperti halnya sistem ekonomi kapitalis, sistem ekonomi sosialis juga
mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan sistem ekonomi sosialis
1) Semua kegiatan dan masalah ekonomi dikendalikan pemerintah sehingga
pemerintah mudah melakukan pengawasan terhadap jalannya perekonomian.
2) Tidak ada kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin, karena distribusi pemerintah dapat dilakukan dengan merata.
3) Pemerintah bisa lebih mudah melakukan pengaturan terhadap barang dan
jasa yang akan diproduksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
4) Pemerintah lebih mudah ikut campur dalam pembentukan harga.
Kekurangan sistem ekonomi sosialis.
1) Mematikan kreativitas dan inovasi setiap individu.
2) Tidak ada kebebasan untuk memiliki sumber daya.
3) Kurang adanya variasi dalam memproduksi barang, karena hanya terbatas pada ketentuan pemerintah.
Negara yang menganut sistem ekonomi sosialis sudah tidak ada lagi. Uni
Soviet (sekarang Rusia) beserta negara-negara pengikutnya telah gagal
dalam menjalankan prinsip sosialisme sebagai cara hidupnya baik secara
ekonomi, moral, maupun sosial dan politik. Hal ini disebabkan oleh tidak
adanya kemampuan pemerintah pusat untuk menangani seluruh masalah yang
muncul, baik di tingkat pusat maupun ditingkat daerah. Selain itu, pada
kenyataannya telah terjadi banyak penyelewengan yang dilakukan oleh
pemerintah.
c . Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi campuran merupakan campuran atau perpaduan antara sistem
ekonomi liberal dengan sistem ekonomi sosialis. Masalah-masalah pokok
ekonomi mengenai barang apa yang akan diproduksi, bagaimana barang itu
dihasilkan, dan untuk siapa barang itu dihasilkan, akan diatasi
bersama-sama oleh pemerintah dan swasta. Pada sistem ekonomi campuran
pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian dalam perekonomian,
namun pihak swasta (masyarakat) masih diberi kebebasan untuk menentukan
kegiatan-kegiatan ekonomi yang ingin mereka jalankan. Adanya campur
tangan dari pemerintah bertujuan untuk menghindari akibat-akibat yang
kurang menguntungkan dari sistem liberal, antara lain terjadinya
monopoli dari golongan-golongan masyarakat tertentu terhadap sumber daya
ekonomi. Apabila kita cermati sebagian besar negara di dunia tidak ada
lagi yang menggunakan salah satu sistem ekonomi. Mereka kebanyakan
mengombinasikan dari sistem-sistem yang ada sesuai dengan situasi dan
tradisi negara yang bersangkutan. Misalnya saja Amerika Serikat yang
sangat terkenal dengan sistem ekonomi liberalnya.
Meskipun sistem ekonomi yang mereka tetapkan berpaham liberal, namun
pada kenyataannya masih ada campur tangan pemerintah, misalnya dalam hal
pembuatan undang-undang antimonopoli. Untuk mengetahui lebih jelasnya
mengenai sistem ekonomi campuran, berikut ini ciri-ciri dari sistem
ekonami campuran.
1) Sumber-sumber daya yang vital dikuasai oleh pemerintah.
2) Pemerintah menyusun peraturan, perencanaan, dan menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan di bidang ekonomi.
3) Swasta diberi kebebasan di bidang-bidang ekonomi dalam batas kebijaksanaan ekonomi yang ditetapkan pemerintah.
4) Hak milik swasta atas alat produksi diakui, asalkan penggunaannya tidak merugikan kepentingan umum.
5) Pemerintah bertanggung jawab atas jaminan sosial dan pemerataan pendapatan.
6) Jenis dan jumlah barang diproduksi ditentukan oleh mekanisme pasar.
Dengan demikian, dalam sistem perekonomian campuran ada bidang-bidang
yang ditangani swasta dan ada bidang-bidang yang ditangani pemerintah.
Sama halnya dengan sistem ekonomi lainnya, sistem ekonomi campuran juga
memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan tetapi, kelebihan dan
kekurangannya tergantung kepada setiap negara dalam mengatur sistem
ekonominya tersebut.
B. Sistem Ekonomi Indonesia
Sistem ekonomi yang dianut oleh setiap bangsa berbeda-beda. Hal ini
sesuai dengan falsafah dan ideologi dari masing-masing negara. Seperti
halnya Indonesia, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia akan
berbeda dengan sistem ekonomi yang dianut oleh Amerika Serikat ataupun
negara-negara lainnya. Pada awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi
liberal, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat.
Akan tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai
Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem
ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.
Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia
diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Sistem ini bertahan
hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan
sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang
masih berlaku di Indonesia. Berikut ini bentuk sistem ekonomi di
Indonesia dari masa Orde Baru hingga sekarang.
1. Sistem Ekonomi Demokrasi
Indonesia mempunyai landasan idiil yaitu Pancasila dan landasan
konstitusional yaitu UUD 1945. Oleh karena itu, segala bentuk kegiatan
masyarakat dan negara harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem
perekonomian yang ada di Indonesia juga harus berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945. Sistem perekonomian nasional yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945 disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi dan dijadikan dasar
pelaksanaan pembangunan ekonomi. Sistem perekonomian Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disebut sistem ekonomi demokrasi.
Dengan demikian sistem ekonomi demokrasi dapat didefinisikan sebagai
suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari
falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan
kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan
pengawasan pemerintah.
Pada sistem demokrasi ekonomi, pemerintah dan seluruh rakyat baik
golongan ekonomi lemah maupun pengusaha aktif dalam usaha mencapai
kemakmuran bangsa. Selain itu, negara berperan dalam merencanakan,
membimbing, dan mengarahkan kegiatan perekonomian. Dengan demikian
terdapat kerja sama dan saling membantu antara pemerintah, swasta, dan
masyarakat.
a. Ciri-Ciri Positif Sistem Ekonomi Demokrasi
Berikut ini ciri-ciri dari sistem ekonomi demokrasi.
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3) Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
4) Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan untuk
permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan
terhadap kebijakan ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula.
5) Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang
dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang
layak.
6) Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
7) Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan
sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
8) Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
b . Ciri-Ciri Negatif Sistem Ekonomi Demokrasi
Selain memiliki ciri-ciri positif, sistem ekonomi demokrasi juga mempunyai hal-hal yang harus dihindarkan.
1) Sistem free fight liberalism, yaitu sistem persaingan bebas yang
saling menghancurkan dan dapat menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia
dan bangsa lain sehingga dapat menimbulkan kelemahan struktural ekonomi
nasional.
2) Sistem etatisme, di mana negara beserta aparatur ekonomi negara
bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi
unit-unit ekonomi di luar sektor negara.
3) Persaingan tidak sehat dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.
2. Sistem Ekonomi Kerakyatan
Sistem ekonomi kerakyatan berlaku di Indonesia sejak terjadinya
Reformasi di Indonesia pada tahun 1998. Pemerintah bertekad melaksanakan
sistem ekonomi kerakyatan dengan mengeluarkan ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999, tentang
Garis-Garis Besar Haluan Negara yang menyatakan bahwa sistem
perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan. Pada sistem
ekonomi kerakyatan, masyarakat memegang aktif dalam kegiatan ekonomi,
sedangkan pemerintah menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan
perkembangan dunia usaha. Sistem ekonomi kerakyatan mempunyai ciri-ciri
berikut ini.
a. Bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan yang sehat.
b. Memerhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai keadilan, kepentingan sosial, dan kualitas hidup.
c. Mampu mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
d. Menjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja.
e. Adanya perlindungan hak-hak konsumen dan perlakuan yang adil bagi seluruh rakyat.
C. Pelaku Utama dalam Sistem Perekonomian Indonesia
Sistem ekonomi kerakyatan sendi utamanya adalah UUD 1945 pasal 33 ayat
(1), (2), dan (3). Bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (1) adalah
koperasi, dan bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (2) dan (3) adalah
perusahaan negara. Adapun dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang
berbunyi “hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak
boleh di tangan seorang”. Hal itu berarti perusahaan swasta juga
mempunyai andil di dalam sistem perekonomian Indonesia. Dengan demikian
terdapat tiga pelaku utama yang menjadi kekuatan sistem perekonomian di
Indonesia, yaitu perusahaan negara (pemerintah), perusahaan swasta, dan
koperasi. Ketiga pelaku ekonomi tersebut akan menjalankan
kegiatan-kegiatan ekonomi dalam sistem ekonomi kerakyatan. Sebuah sistem
ekonomi akan berjalan dengan baik jika pelaku-pelakunya dapat saling
bekerja sama dengan baik pula dalam mencapai tujuannya. Dengan demikian
sikap saling mendukung di antara pelaku ekonomi sangat dibutuhkan dalam
rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.
1. Pemerintah (BUMN)
Pada semester 1 kalian telah mempelajari mengenai pelaku-pelaku ekonomi,
di mana negara atau pemerintah termasuk dalam pelaku ekonomi. Selain
sebagai pelaku ekonomi negara juga berperan sebagai pengatur kegiatan
ekonomi.
a. Pemerintah sebagai Pelaku Kegiatan Ekonomi
Peran pemerintah sebagai pelaku kegiatan ekonomi berarti pemerintah melakukan kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi.
1 ) Kegiatan produksi
Pemerintah dalam menjalankan perannya sebagai pelaku ekonomi,
mendirikan perusahaan negara atau sering dikenal dengan sebutan Badan
Usaha Milik Negara (BUMN). Sesuai dengan UU No. 19 Tahun 2003, BUMN
adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki
oleh negara melalui penyertaan secara langsung berasal dari kekayaan
negara yang dipisahkan. BUMN dapat berbentuk Perjan (Perusahaan
Jawatan), Perum (Perusahaan Umum), dan Persero (Perusahaan Perseroan).
Mengenai ciri-ciri dari ketiga bentuk perusahaan negara di atas telah
kalian pelajari di kelas VII semester 2. BUMN memberikan kontribusi yang
positif untuk perekonomian Indonesia. Pada sistem ekonomi kerakyatan,
BUMN ikut berperan dalam menghasilkan barang atau jasa yang diperlukan
dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pelaksanaan
peran BUMN tersebut diwujudkan dalam kegiatan usaha hampir di seluruh
sektor perekonomian, seperti sektor pertanian, perkebunan, kehutanan,
manufaktur, pertambangan, keuangan, pos dan telekomunikasi,
transportasi, listrik, industri, dan perdagangan serta konstruksi. BUMN
didirikan pemerintah untuk mengelola cabang-cabang produksi dan sumber
kekayaan alam yang strategis dan menyangkut hajat hidup orang banyak.
Misalnya PT Dirgantara Indonesia, PT Perusahaan Listrik Negara, PT
Kereta Api Indonesia (PT KAI), PT Pos Indonesia, dan lain sebagainya.
Perusahaan-perusahaan tersebut didirikan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, serta untuk mengendalikan
sektor-sektor yang strategis dan yang kurang menguntungkan. Secara umum,
peran BUMN dapat dilihat pada hal-hal berikut ini.
a) Mengelola cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak.
b) Sebagai pengelola bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya secara efektif dan efisien.
c) Sebagai alat bagi pemerintah untuk menunjang kebijaksanaan di bidang ekonomi.
d) Menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sehingga dapat menyerap tenaga kerja.
2 ) Kegiatan konsumsi
Seperti halnya yang telah kalian pelajari pada bab 8 mengenai
pelaku-pelaku ekonomi, pemerintah juga berperan sebagai pelaku konsumsi.
Pemerintah juga membutuhkan barang dan jasa untuk menjalankan tugasnya.
Seperti halnya ketika menjalankan tugasnya dalam rangka melayani
masyarakat, yaitu mengadakan pembangunan gedung-gedung sekolah, rumah
sakit, atau jalan raya. Tentunya pemerintah akan membutuhkan bahan-bahan
bangunan seperti semen, pasir, aspal, dan sebagainya. Semua
barang-barang tersebut harus dikonsumsi pemerintah untuk menjalankan
tugasnya. Contoh-contoh mengenai kegiatan konsumsi yang dilakukan
pemerintah masih banyak, seperti membeli barang-barang untuk
administrasi pemerintahan, menggaji pegawai-pegawai pemerintah, dan
sebagainya.
3 ) Kegiatan distribusi
Selain kegiatan konsumsi dan produksi, pemerintah juga melakukan
kegiatan distribusi. Kegiatan distribusi yang dilakukan pemerintah dalam
rangka menyalurkan barang-barang yang telah diproduksi oleh
perusahaanperusahaan negara kepada masyarakat. Misalnya pemerintah
menyalurkan sembilan bahan pokok kepada masyarakat-masyarakat miskin
melalui BULOG. Penyaluran sembako kepada masyarakat dimaksudkan untuk
membantu masyarakat miskin memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatan
distribusi yang dilakukan oleh pemerintah harus lancar. Apabila kegiatan
distribusi tidak lancar akan memengaruhi banyak faktor seperti
terjadinya kelangkaan barang, harga barang-barang tinggi, dan pemerataan
pembangunan kurang berhasil. Oleh karena itu, peran kegiatan distribusi
sangat penting.
b . Pemerintah sebagai Pengatur Kegiatan Ekonomi
Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di bidang ekonomi tidak hanya
berperan sebagai salah satu pelaku ekonomi, akan tetapi pemerintah juga
berperan dalam merencanakan, membimbing, dan mengarahkan terhadap
jalannya roda perekonomian demi tercapainya tujuan pembangunan nasional.
Dalam rangka melaksanakan peranannya tersebut pemerintah menempuh
kebijaksanaan-kebijaksanaan berikut ini.
1 ) Kebijaksanaan dalam dunia usaha Usaha untuk mendorong dan memajukan
dunia usaha, pemerintah melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan berikut
ini.
a) Pemerintah mengeluarkan UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.
b) Pemerintah mengeluarkan UU No. 7 Tahun 1992 mengatur tentang Usaha Perbankan.
c) Pemerintah mengubah beberapa bentuk perusahaan negara agar tidak
menderita kerugian, seperti Perum Pos dan Giro diubah menjadi PT Pos
Indonesia, Perjan Pegadaian diubah menjadi Perum Pegadaian.
2 ) Kebijaksanaan di bidang perdagangan
Di bidang perdagangan, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan berupa
kebijaksanaan ekspor dan kebijaksanaan impor. Pemerintah menetapkan
kebijakan ekspor dengan tujuan untuk memperluas pasar di luar negeri dan
meningkatkan daya saing terhadap barang-barang luar negeri. Adapun
kebijakan impor dimaksudkan untuk menyediakan barang-barang yang tidak
bisa diproduksi dalam negeri, pengendalian impor, dan meningkatkan daya
saing.
3 ) Kebijaksanaan dalam mendorong kegiatan masyarakat Kebijaksanaan
pemerintah dalam mendorong kegiatan masyarakat mencakup hal-hal berikut
ini.
a) Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana umum.
b) Kebijaksanaan menyalurkan kredit kepada pengusaha kecil dan petani.
c) Kebijaksanaan untuk memperlancar distribusi hasil produksi.
2. Swasta (BUMS)
BUMS adalah salah satu kekuatan ekonomi di Indonesia. BUMS merupakan
badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh pihak swasta. Tujuan BUMS
adalah untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. BUMS didirikan dalam
rangka ikut mengelola sumber daya alam Indonesia, namun dalam
pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan peraturan pemerintah dan
UUD 1945. BUMS dalam melakukan perannya mengandalkan kekuatan pemilikan
modal. Perkembangan usaha BUMS terus didorong pemerintah dengan berbagai
kebijaksanaan. Kebijaksanaan pemerintah ditempuh dengan beberapa
pertimbangan berikut ini.
a. Menumbuhkan daya kreasi dan partisipasi masyarakat dalam usaha mencapai kemakmuran sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.
b. Terbatasnya modal yang dimiliki pemerintah untuk menggali dan
mengolah sumber daya alam Indonesia sehingga memerlukan kegairahan usaha
swasta.
c. Memberi kesempatan agar perusahaan-perusahaan swasta dapat memperluas kesempatan kerja.
d. Mencukupi kebutuhan akan tenaga ahli dalam menggali dan mengolah sumber daya alam.
Perusahaan-perusahaan swasta sekarang ini telah memasuki berbagai sektor
kehidupan antara lain di bidang perkebunan, pertambangan, industri,
tekstil, perakitan kendaraan, dan lain-lain. Perusahaan swasta terdiri
atas dua bentuk yaitu perusahaan swasta nasional dan perusahaan asing.
Contoh perusahaan swasta nasional antara lain PT Astra Internasional
(mengelola industri mobil dan motor), PT Ghobel
Dharma Nusantara (mengelola industri alat-alat elektronika), PT
Indomobil (mengelola industri mobil), dan sebagainya. Adapun contoh
perusahaan asing antara lain PT Freeport Indonesia Company (perusahaan
Amerika Serikat yang mengelola pertambangan tembaga di Papua, Irian
Jaya), PT Exxon Company (perusahaan Amerika Serikat yang mengelola
pengeboran minyak bumi), PT Caltex Indonesia (perusahaan Belanda yang
mengelola pertambangan minyak bumi di beberapa tempat di Indonesia), dan
sebagainya.
Perusahaan-perusahaan swasta tersebut sangat memberikan peran penting
bagi perekonomian di Indonesia. Peran yang diberikan BUMS dalam
perekonomian Indonesia seperti berikut ini.
a. Membantu meningkatkan produksi nasional.
b. Menciptakan kesempatan dan lapangan kerja baru.
c. Membantu pemerintah dalam usaha pemerataan pendapatan.
d. Membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
e. Menambah sumber devisa bagi pemerintah.
f. Meningkatkan sumber pendapatan negara melalui pajak.
g. Membantu pemerintah memakmurkan bangsa.
3. Koperasi
a. Sejarah Koperasi
Koperasi pertama di Indonesia dimulai pada penghujung abad ke-19,
tepatnya tahun 1895. Pelopor koperasi pertama di Indonesia adalah R.
Aria Wiriaatmaja, yaitu seorang patih di Purwokerto. Ia mendirikan
sebuah bank yang bertujuan menolong para pegawai agar tidak terjerat
oleh lintah darat. Usaha yang didirikannya diberi nama Bank Penolong dan
Tabungan (Hulp en Spaarbank). Perkembangan koperasi yang didirikan oleh
R. Aria Wiriaatmaja semakin baik. Akibatnya setiap gerak-gerik koperasi
tersebut diawasi dan mendapat banyak rintangan dari Belanda. Upaya yang
ditempuh pemerintah kolonial Belanda yaitu dengan mendirikan Algemene
Volkscrediet Bank, rumah gadai, bank desa, serta lumbung desa.
Pada tahun 1908 melalui Budi Utomo, Raden Sutomo berusaha mengembangkan
koperasi rumah tangga. Akan tetapi koperasi yang didirikan mengalami
kegagalan. Hal itu dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan
manfaat koperasi. Pada sekitar tahun 1913, Serikat Dagang Islam yang
kemudian berubah menjadi Serikat Islam, mempelopori pula pendirian
koperasi industri kecil dan kerajinan. Koperasi ini juga tidak berhasil,
karena rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya penyuluhan kepada
masyarakat, dan miskinnya pemimpin koperasi pada waktu itu. Setelah
dibentuknya panitia koperasi yang diketuai oleh Dr. DJ. DH. Boeke pada
tahun 1920, menyusun peraturan koperasi No. 91 Tahun 1927. Peraturan
tersebut berisi persyaratan untuk mendirikan koperasi, yang lebih
longgar dibandingkan peraturan sebelumnya, sehingga dapat mendorong
masyarakat untuk mendirikan koperasi. Setelah diberlakukannya peraturan
tersebut, perkembangan koperasi di Indonesia mulai menunjukkan
tanda-tanda yang menggembirakan.
Selama masa pendudukan Jepang yaitu pada tahun 1942 – 1945, usaha-usaha
koperasi dipengaruhi oleh asas-asas kemiliteran. Koperasi yang terkenal
pada waktu itu bernama Kumiai. Tujuan Kumiai didirikan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun pada kenyataannya Kumiai
hanyalah tempat untuk mengumpulkan bahan-bahan kebutuhan pokok guna
kepentingan Jepang melawan Sekutu. Oleh karena itulah, menyebabkan
semangat koperasi yang ada di masyarakat menjadi lemah. Setelah
kemerdekaan, bangsa Indonesia memiliki kebebasan untuk menentukan
pilihan kebijakan ekonominya. Para pemimpin bangsa Indonesia mengubah
tatanan perekonomian yang liberalkapitalis menjadi tatanan perekonomian
yang sesuai dengan semangat pasal 33 UUD 1945. Sebagaimana diketahui,
dalam pasal 33 UUD 1945, semangat koperasi ditempatkan sebagai semangat
dasar perekonomian bangsa Indonesia. Berdasarkan pasal itu, bangsa
Indonesia bermaksud untuk menyusun suatu sistem perekonomian usaha
bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Oleh karena itulah, Muhammad
Hatta kemudian merintis pembangunan koperasi. Perkembangan koperasi
pada saat itu cukup pesat, sehingga beliau dianugerahi gelar bapak
koperasi Indonesia. Untuk memantapkan kedudukan koperasi disusunlah UU
No. 25 Tahun 1992.
b . Pengertian Koperasi
Keberadaan koperasi di Indonesia berlandaskan pada pasal 33 UUD 1945 dan
UU No. 25 Tahun 1992. Pada penjelasan UUD 1945 pasal 33 ayat (1),
koperasi berkedudukan sebagai “soko guru perekonomian nasional” dan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem perekonomian
nasional. Adapun penjelasan dalam UU No. 25 Tahun 1992, menyebutkan
bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau
badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas
asas kekeluargaan. Berdasarkan pada pengertian koperasi di atas,
menunjukkan bahwa koperasi di Indonesia tidak semata-mata dipandang
sebagai bentuk perusahaan yang mempunyai asas dan prinsip yang khas,
namun koperasi juga dipandang sebagai alat untuk membangun sistem
perekonomian Indonesia. Koperasi diharapkan dapat mengembangkan potensi
ekonomi rakyat dan mewujudkan demokrasi ekonomi yang sesuai dengan yang
diamanatkan dalam UUD 1945.
c . Landasan, Asas, dan Tujuan Koperasi
Landasan koperasi Indonesia adalah pedoman dalam menentukan arah,
tujuan, peran, serta kedudukan koperasi terhadap pelaku-pelaku ekonomi
lainnya. Koperasi Indonesia mempunyai beberapa landasan berikut ini.
1) Landasan idiil: Pancasila.
2) Landasan struktural: UUD 1945.
3) Landasan operasional: UU No. 25 Tahun 1992 dan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
4) Landasan mental: kesadaran pribadi dan kesetiakawanan. UU No. 25
Tahun 1992 pasal 2 menetapkan bahwa kekeluargaan sebagai asas koperasi.
Semangat kekeluargaan inilah yang menjadi pembeda utama antara koperasi
dengan bentuk-bentuk perusahaan lainnya.
Koperasi didirikan dengan tujuan untuk memajukan kesejahteraan anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan
perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju,
adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
d . Fungsi dan Peran Koperasi
Sesuai dengan UU No. 25 Tahun 1992 pasal 4 menyatakan bahwa fungsi dan peran koperasi seperti berikut ini.
1) Membangun dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota
pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan
kesejahteraan ekonomi dan sosial mereka.
2) Turut serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan
perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional
yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan
demokrasi ekonomi.
e . Perangkat Organisasi Koperasi
Pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian disebutkan
bahwa perangkat organisasi koperasi terdiri atas rapat anggota,
pengurus, dan pengawas. Penjelasan tentang ketiga perangkat organisasi
koperasi ini seperti berikut ini.
1 ) Rapat anggota
Rapat anggota merupakan perangkat yang penting dalam koperasi. Rapat
anggota ialah rapat yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian besar
anggota koperasi. Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi
dalam koperasi. Melalui rapat anggota, seorang anggota koperasi akan
menggunakan hak suaranya. Rapat anggota berwenang untuk menetapkan
hal-hal berikut ini.
a) Anggaran dasar (AD).
b) Kebijaksanaan umum di bidang organisasi.
c) Pemilihan, pengangkatan, dan pemberhentian pengurus dan pengawas.
d) Rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi, serta pengesahan laporan keuangan.
e) Pengesahan pertanggungjawaban pengurus dalam pelaksanaan tugas.
f) Pembagian sisa hasil usaha (SHU).
g) Penggabungan, peleburan, pembagian, dan pembubaran koperasi.
2 ) Pengurus
Pengurus dipilih oleh rapat anggota dari kalangan anggota. Pengurus
adalah pemegang kuasa rapat anggota. Masa jabatan paling lama lima
tahun. Berikut ini tugas pengurus koperasi.
a) Mengelola koperasi dan bidang usaha.
b) Mengajukan rencana kerja serta rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi.
c) Menyelenggarakan rapat anggota.
d) Mengajukan laporan pelaksanaan tugas dan laporan keuangan koperasi.
e) Memelihara buku daftar anggota, pengurus, dan pengawas.
Pengurus bertanggung jawab kepada rapat anggota atau rapat anggota luar
biasa dalam mengelola usaha koperasi. Jika koperasi mengalami kerugian
karena tindakan pengurus baik disengaja maupun karena kelalaiannya,
pengurus harus mempertanggungjawabkan kerugian ini. Apalagi jika
tindakan yang merugikan koperasi itu karena kesengajaan, pengurus dapat
dituntut di pengadilan.
Adapun wewenang pengurus koperasi terdiri atas hal-hal berikut ini.
a) Mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan.
b) Memutuskan penerimaan atau penolakan seseorang sebagai anggota koperasi berdasarkan anggaran dasar koperasi.
c) Melakukan tindakan untuk kepentingan dan kemanfaatan koperasi sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai pengurus.
3 ) Pengawas
Pengawas koperasi adalah salah satu perangkat organisasi koperasi, dan
menjadi suatu lembaga/badan struktural koperasi. Pengawas mengemban
amanat anggota untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan
kebijaksanaan dan pengelolaan koperasi. Koperasi dalam melakukan
usahanya diarahkan pada bidang-bidang yang berkaitan dengan kepentingan
anggota untuk mencapai kesejahteraan anggota. Lapangan usaha itu
menyangkut segala bidang kehidupan ekonomi rakyat dan kepentingan orang
banyak, antara lain bidang perkreditan (simpan pinjam), pertokoan, usaha
produksi, dan usaha jasa. Sesuai dengan namanya sebagai pengawas
koperasi, maka
tugas-tugas koperasi seperti berikut ini.
a) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan koperasi oleh pengurus.
b) Membuat laporan tertulis mengenai hasil pengawasan yang telah dilakukannya.
Supaya para pengawas koperasi dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,
mereka harus diberi wewenang yang cukup untuk mengemban tanggung jawab
tersebut. Pengawas koperasi mempunyai wewenang berikut ini.
a) Meneliti catatan atau pembukuan koperasi.
b) Memperoleh segala keterangan yang diperlukan.
f . Modal Koperasi
Berdasarkan UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, modal koperasi terdiri atas modal sendiri dan modal pinjaman.
1 ) Modal Sendiri Koperasi
a) Simpanan pokok, adalah sejumlah uang yang sama banyaknya dan wajib
dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota.
Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan
masih menjadi anggota.
b) Simpanan wajib, adalah sejumlah simpanan tertentu yang tidak harus
sama dan wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi pada waktu dan
kesempatan tertentu. Simpanan wajib tidak dapat diambil selama yang
bersangkutan masih menjadi anggota.
c) Dana cadangan, adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan
sisa hasil usaha. Dana cadangan digunakan untuk memupuk modal sendiri
dan untuk menutup kerugian koperasi.
d) Hibah, yaitu sumbangan pihak tertentu yang diserahkan kepada koperasi
dalam upayanya turut serta mengembangkan koperasi. Hibah tidak dapat
dibagikan kepada anggota selama koperasi belum dibubarkan.
2 ) Modal pinjaman koperasi
Modal pinjaman dapat berasal dari simpanan sukarela, pinjaman dari
koperasi lainnya, pinjaman dari bank dan lembaga keuangan lainnya, dan
sumber pinjaman lainnya yang sah.
BAB VII. PAJAK
A. Pajak dalam Perekonomian Indonesia
1. Pengertian Pajak.
Apakah yang dimaksud pajak? Pajak adalah iuran yang harus dibayar oleh
wajib pajak (masyarakat) kepada negara (pemerintah) berdasarkan
undang-undang dan tidak memperoleh balas jasa secara langsung. Pajak
diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat (2). Adapun pengertian pajak menurut
Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH, bahwa pajak adalah iuran rakyat kepada
kas negara berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tidak
mendapat balas jasa secara langsung yang dapat ditunjuk dan digunakan
untuk membayar pengeluaran umum. Setelah kalian memahami tentang
pengertian pajak. Kalian mungkin bertanya-tanya“Apa perbedaan pajak
dengan retribusi? Apa retribusi itu?” Di antara kalian mungkin sudah
mengenal retribusi dan melakukan aktivitasnya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 yang telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran
atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau
diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
umum. Pajak berbeda dengan retribusi. Perbedaan di antara keduanya,
dapat kalian pelajari pada Tabel 16.1. Meskipun pajak dan retribusi
berbeda namun keduanya mempunyai fungsi yang sama, yaitu sebagai sumber
pendapatan. Contoh retribusi antara lain karcis parkir kendaraan, karcis
pasar, karcis masuk terminal, dan lain-lain.
2. Ciri-Ciri Pajak
Berdasarkan pengertian di atas, maka ciri-ciri pajak dapat diuraikan berikut ini.
a. Pajak merupakan iuran wajib yang bersifat dapat dipaksakan.
Artinya jika wajib pajak tidak membayar pajak sesuai ketentuan yang
telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, wajib pajak
tersebut dapat dikenakan sanksi atau hukuman.
b. Pemungutan pajak dilakukan berdasarkan undang-undang. Seperti halnya
yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 23 ayat (2) menyebutkan bahwa pajak
dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur
dengan undangundang. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga ketertiban
perpajakan dan untuk melindungi warga negara dari pemungutan yang
sewenang-wenang atau
melampaui batas kewajaran.
c. Wajib pajak tidak mendapatkan balas jasa secara langsung. Artinya
para wajib pajak yang telah membayar pajak tidak akan mendapatkan balas
jasa berupa barang maupun uang akan tetapi, dengan pembayaran pajak
tersebut para wajib pajak akan memperoleh manfaat secara tidak langsung,
yaitu berupa tersedianya fasilitas-fasilitas umum dari pemerintah,
seperti jalan, pasar, sekolah, dan sebagainya.
d. Pajak digunakan untuk kepentingan umum. Pajak yang dipungut
pemerintah digunakan untuk membiayai pengeluaran yang bersifat umum,
seperti penyediaan sarana dan prasarana jalan, pelayanan pemerintah
berupa pendidikan, kesehatan, dan keamanan, dan lain sebagainya.
3. Dasar Pemungutan Pajak
Apakah dasar dari pemungutan pajak? Pemungutan pajak tidak asal pungut,
tetapi ada aturan-aturan yang mendasarinya. Pajak merupakan sumber
pendapatan negara dan memungutnya harus berdasarkan undang-undang.
Undang-undang yang mengatur tentang perpajakan harus berlandaskan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu, undang-undang
perpajakan harus disesuaikan dengan kepentingan pembangunan sekarang.
Berikut ini dasar-dasar dalam pemungutan pajak.
a. UU No. 16 Tahun 2000 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
b. UU No. 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan (PPh).
c. UU No. 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM).
d. UU No. 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
e. UU No. 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
4. Prinsip-Prinsip Pemungutan Pajak
Supaya pemungutan pajak benar-benar efektif, terdapat lima prinsip yang harus dijalankan dalam pelaksanaan pemungutan pajak.
a. Prinsip Keadilan ( Equity Equity)
Keadilan dalam pemungutan pajak artinya pajak dikenakan secara umum dan
sesuai dengan kemampuan wajib pajak atau sebanding dengan tingkat
penghasilannya.
b . Prinsip Kepastian (Certainty)
Pemungutan pajak harus dilakukan dengan tegas, jelas, dan ada kepastian
hukum. Hal ini dimaksudkan agar mudah dimengerti oleh wajib pajak dan
memudahkan administrasi.
c . Prinsip Kecocokan/Kelayakan ( Convience Convience)
Pajak yang dipungut hendaknya tidak memberatkan wajib pajak. Artinya
pemerintah harus memerhatikan layak atau tidaknya seseorang dikenakan
pajak sehingga orang yang dikenai pajak akan senang hati membayar pajak.
d . Prinsip Ekonomi ( Economy Economy)
Pada saat menetapkan dan memungut pajak harus mempertimbangkan biaya
pemungutan pajak. Jangan sampai biaya pemungutannya lebih tinggi dari
pajak yang dikenakan.
5. Unsur-Unsur Pajak
Berdasarkan pengertian pajak di atas, setiap pajak terdiri atas beberapa unsur. Berikut ini unsur-unsur pajak.
a. Subjek Pajak
Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan
kewajiban perpajakan termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak
tertentu, misalnya pegawai, pengusaha, dan perusahaan. Setiap wajib
pajak wajib mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak setempat,
kemudian wajib pajak akan mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
sebagai tanda pengenal. Wajib pajak harus melaporkan kekayaan dan jumlah
pajak yang menjadi tanggungannya kepada kantor pelayanan pajak setempat
setiap tahun.
b . Objek Pajak
Objek pajak adalah sesuatu yang dikenakan pajak, misalnya penghasilan
seseorang yang melebihi jumlah tertentu, tanah, bangunan, laba
perusahaan, kekayaan, mobil. Apabila setiap tahun ayah kalian membayar
pajak bumi dan bangunan (PBB), tanah dan bangunan yang dimiliki ayah
kalian dikatakan sebagai objek pajak.
c . Tarif Pajak
Tarif pajak adalah ketentuan besar kecilnya pajak yang harus dibayar
oleh wajib pajak terhadap objek pajak yang menjadi tanggungannya. Semua
jenis pajak mempunyai tarif yang berbeda-beda. Tarif pajak untuk pajak
bumi dan bangunan berbeda dengan tarif pajak penghasilan dan pajak
pertambahan nilai. Perbedaan tarif pajak disebabkan oleh karena sistem
pajak Indonesia yang menggunakan sistem tarif pajak progresif sehingga
pemerintah menyusun kebijakan-kebijakan yang membedakan tarif pajak
sesuai dengan keadaan ekonomi negara dan program pembangunan. Berikut
ini beberapa bentuk tarif pajak.
1) Tarif pajak progresif
Tarif pajak progresif adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase
yang semakin meningkat mengikuti pertambahan jumlah pendapatan yang
dikenakan pajak.
2) Tarif pajak degresif
Tarif pajak degresif adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase
yang semakin kecil dengan semakin besarnya jumlah pendapatan yang
dikenakan pajak. Contoh tarif pajak degresif :
3) Tarif pajak proporsional
Tarif pajak proporsional adalah tarif pemungutan pajak dengan persentase
tetap, berapa pun jumlah pendapatan yang digunakan sebagai dasar
pengenaan pajak. Contoh tarif pajak proporsional :
4) Tarif pajak tetap
Tarif pajak tetap adalah tarif pemungutan pajak dengan besar yang sama
untuk semua jumlah. Dengan demikian, besarnya pajak yang terutang tidak
tergantung pada jumlah yang dikenakan pajak. Contoh tarif pajak tetap
adalah bea meterai.
6. Jenis-Jenis Pajak
Pajak dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu jenis pajak berdasarkan pihak yang memungut, sifat, dan golongan.
a. Berdasarkan Pihak yang Memungut
1 ) Pajak negara
Pajak negara adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat melalui
Direktorat Jenderal Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak di bawah Departemen
Keuangan. Pajak negara digunakan untuk membiayai pengeluaran negara.
Contoh pajak negara, yaitu Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan
Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), bea meterai, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan,
bea cukai, pajak orang asing, serta pajak atas royalti dan dividen.
2 ) Pajak daerah
Pajak daerah adalah pajak yang pemungutannya dilakukan oleh pemerintah
daerah, baik Pemerintah Daerah Tingkat I maupun Pemerintah Daerah
Tingkat II. Pajak daerah dimiliki setiap daerah dan memiliki kebijakan
masing-masing dalam menentukan subjek pajak, objek maupun tarif pajak
daerah. Pajak ini digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah
daerah dan pembangunan daerah. Jenis pajak yang dipungut antara
pemerintah daerah tingkat I dengan tingkat II berbeda-beda. Secara umum
contoh pajak daerah antara lain pajak kendaraan bermotor dan kendaraan
di atas air, bea balik nama kendaraan bermotor dan kendaraan di atas
air, pajak hotel, pajak restoran, dan pajak reklame. Perbedaan antara
pajak negara dan pajak daerah dapat kalian lihat pada Tabel 16.2.
Tabel 16.2 Perbedaan Pajak Negara dan Pajak Daerah
b . Berdasarkan Sifatnya
1 ) Pajak subjektif
Pajak subjektif yaitu pajak yang pemungutannya berdasarkan diri wajib pajak, misalnya pajak penghasilan (PPh).
2 ) Pajak objektif
Pajak objektif yaitu pajak yang pemungutannya berdasarkan objek atau
tidak memerhatikan keadaan wajib pajak. Contohnya Pajak Pertambahan
Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
c . Berdasarkan Golongan
1 ) Pajak langsung
Pajak langsung adalah pajak yang harus ditanggung sendiri oleh wajib
pajak dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Contoh pajak
langsung yaitu Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),
dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB).
2 ) Pajak tidak langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak yang harus dibayar pihak tertentu,
tetapi dapat dilimpahkan kepada orang lain. Contoh pajak tidak langsung,
yaitu Pajak Penjualan (PPn), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan bea
impor. Akan tetapi beban pajaknya diteruskan kepada konsumen dalam
bentuk harga jual yang lebih tinggi. Dengan demikian yang membiayai
pajak sebenarnya adalah pemakai atau konsumen. Pajak tidak langsung
lainnya adalah cukai tembakau atau pita rokok, dan cukai untuk minuman
keras.
B. Contoh Pajak yang Ditanggung Keluarga
1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) diatur dalam UU No. 12 Tahun 1994. PBB
adalah pajak yang dikenakan terhadap orang atau badan yang memiliki
permukaan bumi dan bangunan yang dibangun secara tetap di atasnya.
Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan serta wilayah laut. Adapun
yang dimaksud bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam secara
tetap pada tanah atau perairan. Contohnya rumah, jembatan, pasar mewah,
kolam renang, taman mewah, dan sebagainya.
a. Objek Pajak
Objek pajak PBB adalah bumi dan atau bangunan. Objek pajak yang dikenai
pajak PBB adalah objek pajak yang berupa hal-hal berikut ini.
1) Bangunan yang digunakan untuk melayani kepentingan umum seperti
tempat ibadah, rumah sakit, gedung sekolah, dan tempat-tempat umum
lainnya yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan.
2) Kuburan, peninggalan purbakala, dan sejenisnya.
3) Hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah
penggembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah negara yang belum
dibebani suatu hak.
4) Bangunan yang digunakan oleh perwakilan diplomatik.
5) Bangunan yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
b . Subjek Pajak
Subjek pajak yang dikenai pajak PBB adalah orang atau badan yang secara
nyata mempunyai suatu hak atas bumi dan bangunan serta memperoleh
manfaat dari bangunan yang dimilikinya.
c . Tarif Pajak
Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak sebesar 0,5%.
d . Dasar Pengenaan Pajak
1) Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar.
2) Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP)
Besarnya NJOPTKP ditetapkan sebesar Rp8.000.000,00. Apabila besarnya
NJOP lebih kecil dari NJOPTKP maka objek pajak tersebut tidak dikenakan
pajak PBB.
3) Nilai Jual Kena Pajak (NJKP)
NJKP adalah suatu persentase dari nilai jual sebenarnya (NJOKP). NJKP
yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100% dari
NJOP.
4) Pajak PBB yang terutang
Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan NJKP.
e . Contoh Perhitungan Pajak PBB
2. Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan subjek pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Pajak
Penghasilan (PPh) diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang
Pajak Penghasilan.
a. Objek Pajak
Objek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomi
yang diterima atau diperoleh wajib pajak baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi
atau untuk menambah kelengkapan wajib pajak yang bersangkutan.
b . Subjek Pajak
Subjek pajak adalah barang pribadi, warisan yang belum terbagi
sebagai satu kesatuan, badan usaha, dan bentuk usaha tetap. Subjek pajak
terdiri atas subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.
Beberapa contoh bentuk pajak penghasilan.
1) Pajak upah atau gaji, pensiun, komisi, atau penghasilan lain yang diperoleh karena pekerjaan seseorang (wajib pajak).
2) Pajak honorarium dan royalti.
3) Pajak hadiah atau penghargaan.
4) Pajak keuntungan berusaha.
5) Pajak bunga simpanan atau tabungan di bank.
6) Pajak dividen yang diterima oleh pemegang saham perusahaan.
7) Pajak sewa tanah, rumah, atau harta kekayaan lain.
8) Pajak pembayaran asuransi.
c . Tarif Pajak
Besarnya tarif pajak penghasilan yang ditetapkan atas penghasilan kena
pajak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 sebagai berikut:
1) Wajib pajak orang pribadi dalam negeri
2) Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap
d . Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
Besarnya PTKP menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/PMK 03/2005 yang berlaku per 1 Januari 2006 sebagai berikut.
1) Rp13.200.000,00 untuk diri wajib pajak orang pribadi.
2) Rp1.200.000,00 tambahan untuk wajib pajak yang sudah menikah.
3) Rp13.200.000,00 tambahan untuk seorang istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami.
4) Rp1.200.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan
keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang
menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak tiga orang untuk setiap
keluarga.
. Contoh Perhitungan Pajak Penghasilan
3. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjual atas Barang Mewah (PPnBM)
Apabila kalian membeli minuman ringan bersoda di swalayan, maka kalian
telah membayar harga minuman tersebut beserta PPNnya. PPN adalah pajak
yang dikenakan terhadap penjualan atau penyerahan barang yang telah
diolah atau diproses sehingga berubah dari sifat atau bentuk aslinya
menjadi barang baru yang bertambah nilainya atau daya gunanya. Berbeda
ketika orang tua kalian membeli mobil sedan. Orang tua kalian akan
dikenakan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). Pajak PPnBM adalah
pajak yang dikenakan pada barangbarang yang tergolong barang mewah. PPN
dan PPnBM diatur dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang atau Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.
a. Objek Pajak
Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas:
1) penyerahan barang kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha,
2) impor barang kena pajak,
3) penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha,
4) pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean,
5) pemanfaatan jasa kena pajak dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean,
6) ekspor barang kena pajak oleh pengusaha kena pajak.
Penetapan jenis barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai didasarkan atas kelompok-kelompok barang berikut ini.
1) Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.
2) Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.
3) Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya.
4) Uang, emas batangan, dan surat berharga. Penetapan jenis jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan
Nilai didasarkan atas kelompok-kelompok jasa berikut ini.
1) Jasa di bidang pelayanan kesehatan medis.
2) Jasa di bidang pelayanan sosial.
3) Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko.
4) Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna dengan hak opsi.
5) Jasa di bidang pendidikan.
6) Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan.
7) Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan.
8) Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air.
9) Jasa di bidang tenaga kerja.
10) Jasa di bidang perhotelan.
11) Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum.
b . Subjek Pajak
Pajak PPN dan PPnBM dikenakan kepada pengusaha, pengimpor atau pedagang
yang menjual barang-barang yang telah disebutkan di atas. Pada
kenyataannya, biasanya PPN dan PPnBM dilimpahkan kepada konsumen atau
pembeli. Dengan demikian konsumenlah yang membayar PPN dan PPnBM atas
barang yang dibelinya.
c . Tarif Pajak
Pajak PPN adalah 10%, sedangkan tarif PPN atas ekspor barang kena pajak
adalah 0%. Berdasarkan peraturan pemerintah, tarif pajak PPN dirubah
menjadi serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%. Adapun tarif
PPnBM adalah 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, dan 75%. Berikut ini contoh
penetapan tarif pajak untuk barang-barang mewah.
d . Contoh Penghitungan Pajak PPN dan PPnBM
C. Fungsi Pajak dalam Perekonomian Indonesia
Pajak yang dipungut dari wajib pajak mempunyai beberapa fungsi, antara
lain sebagai sumber pendapatan negara, pengatur kegiatan ekonomi,
pemerataan pembangunan dan pendapatan masyarakat, dan sebagai sarana
stabilitas ekonomi.
1. Sumber Pendapatan Negara
Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, bahwa pajak merupakan
sumber utama pendapatan negara. Pajak yang dipungut digunakan pemerintah
untuk membiayai pengeluaran negara seperti pengeluaran rutin dan
pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin adalah pengeluaran negara
untuk menyelenggarakan pemerintahan yang bersifat rutin, seperti
menggaji pegawai negeri sipil, membeli peralatan kegiatan pemerintahan,
membayar bunga pinjaman, dan sebagainya. Adapun pengeluaran pembangunan
seperti pembangunan jembatan, jalan raya, gedung sekolah, dan
sebagainya.
2. Pengatur Kegiatan Ekonomi
Pajak dapat berfungsi untuk mengatur perekonomian. Sebagai contoh untuk
meningkatkan investasi, pemerintah dapat menurunkan pajak guna
merangsang pengusahapengusaha untuk menanamkan modalnya. Contoh lainnya
untuk membatasi pola hidup konsumtif pemerintah mengenakan pajak atas
barang-barang mewah, dan sebagainya.
3. Pemerataan Pembangunan dan Pendapatan Masyarakat
Pendapatan masyarakat berbeda antara daerah satu dengan daerah yang
lainnya, sehingga mengakibatkan perbedaan pada pemerataan pembangunan
ekonomi. Tarif pajak yang dikenakan pada masyarakat yang berpenghasilan
tinggi lebih tinggi daripada masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Penerimaan pajak dari masyarakat yang berpenghasilan tinggi digunakan
untuk membangun sarana dan prasarana ekonomi di daerah kurang maju,
seperti pembangunan pasar, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Oleh
karena itu pajak akan dapat memeratakan pembangunan dan dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah tertinggal.
4. Sarana Stabilitas Ekonomi
Pajak dapat berfungsi sebagai stabilitas ekonomi. Misalnya untuk
meningkatkan kesempatan kerja, pemerintah menurunkan tarif pajak. Tarif
pajak yang rendah memungkinkan masyarakat mengeluarkan uangnya lebih
banyak untuk membeli barang. Banyaknya permintaan akan barang
menyebabkan perusahaan harus lebih banyak memproduksi barang, akibatnya
perusahaan akan menuntut tambahan tenaga kerja. Oleh karena itu, pajak
dapat meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat.
BAB VIII PERMINTAAN DAN PENAWARAN SERTA TERBENTUKNYA HARGA PASAR
Pada semester 1, kalian telah mempelajari pasar, di mana di dalam
pasar terdapat penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli yang
berinteraksi akan melakukan proses tawar-menawar. Proses tawar-menawar
ini menunjukkan adanya permintaan dan penawaran barang. Penjual akan
menawarkan barang dagangannya dengan harga yang telah ditentukan dan
pembeli akan meminta barang diinginkan dengan harga rendah. Proses
tawar-menawar ini akan berlangsung hingga tercapai kesepakatan harga.
Pada bab ini, kita akan mempelajari permintaan, penawaran, dan
pembentukan harga barang di dalam pasar. Pokok-pokok bahasan tersebut
dapat kalian pelajari dalam pembahasan berikut ini.
A. Permintaan Barang dan Jasa
1. Pengertian Permintaan
Coba kalian perhatikan contoh pengalaman Desi berikut ini. Desi ingin
membuka usaha toko buah, untuk itu dia membeli buah jeruk di pasar,
tetapi sebelumnya dia membuat catatan belanja berikut ini.
Tabel 17.1 Daftar Pembelian Jeruk
Berdasarkan daftar belanjaan Desi di atas menunjukkan bahwa pada saat
harga jeruk sebesar Rp4.500,00, Desi akan membeli jeruk sebanyak 140 kg.
Ketika harga Rp6.000,00, maka Desi hanya akan membeli jeruk sebanyak 20
kg. Kesediaan Desi untuk membeli jeruk dalam berbagai jumlah pada
tingkat harga tertentu merupakan contoh permintaan. Pada saat Desi
menyusun daftar permintaan jeruk, apakah hanya mempertimbangkan harga
saja? Tentunya tidak, bukan? Desi juga harus mempertimbangkan uang yang
dimilikinya. Jika uang yang tersedia dapat digunakan untuk memenuhi
keinginan Desi untuk membeli jeruk maka permintaan jeruk dapat terjadi.
Lalu apakah yang dimaksud permintaan? Apabila dalam merumuskan
pengertian permintaan hanya memerhatikan faktor harga barang dan jumlah
barang yang diminta, serta menganggap faktor-faktor selain harga tidak
berubah, maka permintaan adalah keseluruhan jumlah barang atau jasa yang
bersedia diminta pada berbagai tingkat harga, waktu, dan tempat
tertentu.
2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa selain faktor harga masih
ada faktor-faktor lain yang memengaruhi permintaan. Namun,
faktor-faktor selain harga pengaruhnya tidak sekuat faktor harga.
Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi permintaan.
a. Harga Barang itu Sendiri
Harga barang akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika harga naik jumlah permintaan barang tersebut akan meningkat,
sedangkan jika harga turun maka jumlah permintaan barang akan menurun.
b . Harga Barang Subtitusi (Pengganti)
Harga barang dan jasa pengganti (substitusi) ikut memengaruhi jumlah
barang dan jasa yang diminta. Apabila harga dari barang substitusi lebih
murah maka orang akan beralih pada barang substitusi tersebut. Akan
tetapi jika harga barang substitusi naik maka orang akan tetap
menggunakan barang yang semula. Contohnya kaos adalah pengganti kemeja.
Jika di pasar harga kaos lebih murah dibandingkan kemeja, maka
permintaan akan kaos lebih banyak bila dibandingkan permintaan terhadap
kemeja.
c . Harga Barang Komplementer (Pelengkap)
Barang pelengkap juga dapat memengaruhi permintaan barang/jasa. Misalnya
sepeda motor, barang komplementernya bensin. Apabila harga bensin naik,
maka kecenderungan orang untuk membeli sepeda motor akan turun, begitu
juga sebaliknya.
d . Pendapatan
Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh seseorang turut menentukan
besarnya permintaan akan barang dan jasa. Apabila pendapatan yang
diperoleh tinggi maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin
tinggi. Sebaliknya jika pendapatannya turun, maka kemampuan untuk
membeli barang juga akan turun. Akibatnya jumlah barang akan semakin
turun. Misalnya pendapatan Ibu Tia dari hasil dagang minggu pertama
Rp200.000,00 hanya dapat untuk membeli kopi 20 kg. Tetapi ketika hasil
dagang minggu kedua Rp400.000,00, Ibu Tia dapat membeli kopi sebanyak 40
kg.
e . Selera Konsumen
Selera konsumen terhadap barang dan jasa dapat memengaruhi jumlah barang
yang diminta. Jika selera konsumen terhadap barang tertentu meningkat
maka permintaan terhadap barang tersebut akan meningkat pula. Misalnya,
sekarang ini banyak orang yang mencari hand phone yang dilengkapi
fasilitas musik dan game, karena selera konsumen akan barang tersebut
tinggi maka permintaan akan hand phone yang dilengkapi musik dan game
akan meningkat.
f . Intensitas Kebutuhan Konsumen
Intensitas kebutuhan konsumen berpengaruh terhadap jumlah barang yang
diminta. Kebutuhan terhadap suatu barang atau jasa yang tidak mendesak,
akan menyebabkan permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa
tersebut rendah. Sebaliknya jika kebutuhan terhadap barang atau jasa
sangat mendesak maka permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa
tersebut menjadi meningkat, misalnya dengan meningkatnya curah hujan
maka intensitas kebutuhan akan jas hujan semakin meningkat. Konsumen
akan bersedia membeli jas hujan hingga Rp25.000,00 walaupun kenyataannya
harga jas hujan Rp15.000,00.
g . Perkiraan Harga di Masa Depan
Apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan naik maka konsumen
cenderung menambah jumlah barang yang dibeli karena ada kekhawatiran
harga akan semakin mahal. Sebaliknya apabila konsumen memperkirakan
bahwa harga akan turun, maka konsumen cenderung mengurangi jumlah barang
yang dibeli. Misalnya ada dugaan kenaikan harga bahan bakar minyak
mengakibatkan banyak konsumen antri di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan
Bakar Umum) untuk mendapatkan bensin atau solar yang lebih banyak.
h. Jumlah Penduduk
Pertambahan penduduk akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika
jumlah penduduk dalam suatu wilayah bertambah banyak, maka barang yang
diminta akan meningkat.
3. Macam-Macam Permintaan
Permintaan dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain permintaan berdasarkan daya beli dan jumlah subjek pendukung.
a. Permintaan Menurut Daya Beli
Berdasarkan daya belinya, permintaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu
permintaan efektif, permintaan potensial, dan permintaan absolut.
1) Permintaan efektif adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang
atau jasa yang disertai dengan daya beli atau kemampuan membayar. Pada
permintaan jenis ini, seorang konsumen memang membutuhkan barang itu dan
ia mampu membayarnya.
2) Permintaan potensial adalah permintaan masyarakat terhadap suatu
barang dan jasa yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membeli, tetapi
belum melaksanakan pembelian barang atau jasa tersebut. Contohnya Pak
Luki sebenarnya mempunyai uang yang cukup untuk membeli kulkas, namun ia
belum mempunyai keinginan untuk membeli kulkas.
3) Permintaan absolut adalah permintaan konsumen terhadap suatu barang
atau jasa yang tidak disertai dengan daya beli. Pada permintaan absolut
konsumen tidak mempunyai kemampuan (uang) untuk membeli barang yang
diinginkan. Contohnya Hendra ingin membeli sepatu olahraga. Akan tetapi
uang yang dimiliki Hendra tidak cukup untuk membeli sepatu olahraga.
Oleh karena itu keinginan Hendra untuk membeli sepatu olahraga tidak
bisa terpenuhi.
b . Permintaan Menurut Jumlah Subjek Pendukungnya
Berdasarkan jumlah subjek pendukungnya, permintaan terdiri atas permintaan individu dan permintaan kolektif.
1 ) Permintaan individu
Permintaan individu adalah permintaan yang dilakukan oleh seseorang
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh bentuk permintaan individu
seperti pada Tabel 17.1 mengenai daftar permintaan jeruk Desi.
2 ) Permintaan kolektif
Permintaan kolektif atau permintaan pasar adalah kumpulan dari
permintaan-permintaan perorangan/individu atau permintaan secara
keseluruhan para konsumen di pasar. Contohnya, selain Desi, di pasar
juga ada beberapa pembeli lainnya yang akan membeli jeruk. Jika
permintaan Desi dan teman-temannya tersebut digabungkan maka terbentuk
permintaan pasar. Bentuk permintaan kolektif dapat kalian lihat pada
Tabel 17.2.
Tabel 17.2 Daftar Permintaan Pasar terhadap Jeruk
4. Hukum Permintaan
Coba kalian perhatikan lagi pada Tabel 17.1 mengenai daftar permintaan
jeruk Desi. Apa yang dapat kalian simpulkan dari tabel tersebut? Ketika
harga jeruk Rp4.500,00/kg permintaan Desi sebesar 140 kg. Namun ketika
harga jeruk Rp6.000,00/kg, permintaan turun menjadi 20 kg. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, permintaan akan
turun. Kondisi tersebut menggambarkan bunyi hukum permintaan. Hukum
permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang
bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta.
Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga
rendah jumlah barang yang diminta meningkat. Dengan demikian hukum
permintaan berbunyi:
Pada hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus. Artinya hukum
permintaan tersebut berlaku jika keadaan atau faktor-faktor selain harga
tidak berubah (dianggap tetap).
5. Kurva Permintaan
Hukum permintaan yang telah kalian pelajari di atas dapat digambarkan
menggunakan suatu grafik yang disebut kurva permintaan. Perhatikan
kembali daftar permintaan yang dilakukan Desi dalam membeli jeruk pada
tabel berikut ini.
Tabel 17.3 Permintaan Jeruk Desi
Berdasarkan tabel di atas dapat dibuat grafik seperti gambar di
samping. Bentuk kurva permintaan di samping memiliki kemiringan (slope)
negatif atau bergerak dari kiri atas ke kanan bawah. Artinya apabila
harga jeruk turun, jumlah barang yang diminta bertambah atau sebaliknya
(ceteris paribus). Perlu kalian sadari, bahwa ketika menganalisis
permintaan, terdapat dua istilah yang berbeda, yaitu permintaan dan
jumlah barang yang bersedia diminta.
Apakah perbedaan dari kedua istilah tersebut? Menurut para ahli ekonomi,
permintaan adalah keseluruhan dari kurva permintaan atau keseluruhan
dari titik yang ada pada kurva (A + B + C + D + E + F + G). Dengan
demikian permintaan menggambarkan keadaan keseluruhan daripada hubungan
antara harga dan jumlah permintaan. Adapun jumlah barang yang bersedia
diminta adalah banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu.
Misalnya titik A, menggambarkan bahwa pada harga Rp4.500,00 jumlah yang
diminta adalah 140 kg. Dengan demikian, setiap titik yang ada pada kurva
menggambarkan jumlah barang yang diminta.
6. Pergeseran Kurva Permintaan
Pergeseran kurva permintaan menunjukkan adanya perubahan permintaan yang
ditimbulkan oleh faktor-faktor selain harga. Pergeseran kurva
permintaan ditunjukkan dengan bergeraknya kurva ke kanan atau ke kiri.
Kembali pada contoh di depan mengenai permintaan Desi terhadap jeruk.
Pada contoh di depan menunjukkan bahwa berubahnya jumlah jeruk yang
diminta Desi akibat dari perubahan harga jeruk itu sendiri. Bagaimana
jika faktor lainnya seperti pendapatan Desi memengaruhi jumlah jeruk
yang diminta? Apabila pendapatan Desi mengalami peningkatan, maka jumlah
jeruk yang diminta pun juga akan meningkat. Namun ketika pendapatan
Desi mengalami penurunan maka jumlah jeruk yang diminta akan turun.
Untuk lebih jelasnya perhatikan Tabel 17.4 dan bentuk kurva berikut ini.
Tabel 17.4 Daftar Jumlah Jeruk yang Diminta Akibat Perubahan Pendapatan
Apabila dari tabel di atas diubah dalam bentuk grafik, maka akan tampak seperti di bawah ini.
Perhatikan kurva permintaan di atas. Kurva permintaan mengalami
pergeseran ke kanan dari D ke D1 dan bergeser ke kiri dari D ke D2.
Pergeseran ke kanan dari kurva permintaan menunjukkan pertambahan jumlah
permintaan karena adanya peningkatan pendapatan. Sedangkan kurva
bergeser ke kiri menunjukkan penurunan jumlah permintaan karena
penurunan pendapatan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya
perubahan pendapatan dapat mengubah jumlah permintaan akan barang serta
dapat menggeser kurva permintaan.
B. Penawaran Barang dan Jasa
1. Pengertian Penawaran
Kalian tentunya masih ingat mengenai daftar permintaan jeruk Desi,
bukan? Jika kalian sudah lupa, mari kita bersama-sama mengingat kembali
mengenai permintaan. Berdasarkan daftar permintaan jeruk Desi dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi harga, jumlah barang yang diminta
semakin sedikit. Hal tersebut apabila dilihat dari sisi pembeli.
Bagaimana jika dilihat dari sisi penjual jeruk? Supaya kalian dapat
menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pelajari bersama mengenai daftar
penjualan jeruk Pak Heri berikut ini.
Tabel 17.5 Daftar Penjualan Jeruk Pak Heri
Tabel di atas menunjukkan berbagai jumlah jeruk yang ingin dijual oleh
Pak Heri pada berbagai tingkat harga tertentu pada saat tertentu. Pak
Heri sebagai penjual tentunya ingin mendapatkan keuntungan yang besar.
Oleh karena itu jika Pak Heri menjual jeruknya dengan harga Rp4.500,00,
jumlah jeruk yang ingin ditawarkan sebanyak 50 kg. Apabila harganya
Rp4.750,00, jumlah jeruk yang ditawarkan adalah 60 kg. Akan tetapi jika
harga jeruk setiap satu kilogramnya sebesar Rp6.000,00, Pak Heri akan
menjual lebih banyak lagi jeruknya, yaitu sebanyak 110 kg. Daftar yang
menunjukkan penjualan jeruk Pak Heri itulah merupakan contoh penawaran.
Penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada
berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik,
jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun,
maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit.
Seperti halnya pembeli, apakah penjual juga hanya memperhitungkan faktor
harga saja dalam menyusun daftar penawaran? Tentu saja tidak. Pada
kenyataannya banyak faktor yang memengaruhi penawaran penjual. Namun
ketika merumuskan penawaran, cukup dengan menghubungkan harga dan jumlah
barang dan jasa yang ditawarkan. Faktor-faktor selain harga dianggap
tidak berubah (ceteris paribus).
2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Penawaran
Penawaran dan produksi mempunyai hubungan yang sangat erat. Hal-hal yang
mendorong dan menghambat kegiatan produksi berpengaruh terhadap jumlah
penawaran. Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi penawaran.
a. Harga Barang itu Sendiri
Apabila harga barang yang ditawarkan mengalami kenaikan, maka jumlah
barang yang ditawarkan juga akan meningkat. Sebaliknya jika barang yang
ditawarkan turun jumlah barang yang ditawarkan penjual juga akan turun.
Misalnya jika harga sabun mandi meningkat dari Rp1.500,00 menjadi
Rp2.000,00, maka jumlah sabun mandi yang penjual tawarkan akan meningkat
pula.
b . Harga Barang Pengganti
Apabila harga barang pengganti meningkat maka penjual akan meningkatkan
jumlah barang yang ditawarkan. Penjual berharap, konsumen akan beralih
dari barang pengganti ke barang lain yang ditawarkan, karena harganya
lebih rendah. Contohnya harga kopi meningkat menyebabkan harga barang
penggantinya yaitu teh lebih rendah, sehingga penjual lebih banyak
menjual teh.
c . Biaya Produksi
Biaya produksi berkaitan dengan biaya yang digunakan dalam proses
produksi, seperti biaya untuk membeli bahan baku, biaya untuk gaji
pegawai, biaya untuk bahan-bahan penolong, dan sebagainya. Apabila
biaya-biaya produksi meningkat, maka harga barang-barang diproduksi akan
tinggi. Akibatnya produsen akan menawarkan barang produksinya dalam
jumlah yang sedikit. Hal ini disebabkan karena produsen tidak mau rugi.
Sebaliknya jika biaya produksi turun, maka produsen akan meningkatkan
produksinya. Dengan demikian
penawaran juga akan meningkat.
d . Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya barang
yang ditawarkan. Adanya teknologi yang lebih modern akan memudahkan
produsen dalam menghasilkan barang dan jasa. Selain itu dengan
menggunakan mesin-mesin modern akan menurunkan biaya produksi dan akan
memudahkan produsen untuk menjual barang dengan jumlah yang banyak.
Misalnya untuk menghasilkan 1 kg gula pasir biaya yang harus dikeluarkan
oleh perusahaan Manis sebesar Rp4.000,00. Harga jualnya sebesar
Rp7.500,00/kg. Namun dengan menggunakan mesin yang lebih modern,
perusahaan Manis mampu menekan biaya produksi menjadi Rp3.000,00. Harga
jual untuk setiap 1 kilogramnya tetap yaitu Rp7.500,00/kg. Dengan
demikian perusahaan Manis dapat memproduksi gula pasir lebih banyak.
e . Pajak
Pajak yang merupakan ketetapan pemerintah terhadap suatu produk sangat
berpengaruh terhadap tinggi rendahnya harga. Jika suatu barang tersebut
menjadi tinggi, akibatnya permintaan akan berkurang, sehingga penawaran
juga akan berkurang.
f . Perkiraan Harga di Masa Depan
Perkiraan harga di masa datang sangat memengaruhi besar kecilnya jumlah
penawaran. Jika perusahaan memperkirakan harga barang dan jasa naik,
sedangkan penghasilan masyarakat tetap, maka perusahaan akan menurunkan
jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Misalnya pada saat krisis
ekonomi, harga-harga barang dan jasa naik, sementara penghasilan relatif
tetap. Akibatnya perusahaan akan mengurangi jumlah produksi barang dan
jasa, karena takut tidak laku.
3. Macam-Macam Penawaran
Apabila ditinjau dari jumlah barang yang ditawarkan, penawaran dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu penawaran perorangan dan penawaran
kolektif.
a. Penawaran Individu
Penawaran individu adalah jumlah barang yang akan dijual oleh seorang
penjual. Contoh penawaran jeruk oleh Pak Heri (lihat Tabel 17.5).
b . Penawaran Kolektif
Penawaran kolektif disebut juga penawaran pasar. Penawaran kolektif
adalah keseluruhan jumlah suatu barang yang ditawarkan oleh penjual di
pasar. Penawaran pasar merupakan penjumlahan dari keseluruhan penawaran
perorangan. Contoh penawaran kolektif yang dilakukan oleh Pak Heri dan
pedagang buah jeruk di pasar dapat kalian lihat pada Tabel 17.6.
Tabel 17.6 Daftar Penawaran Pasar terhadap Jeruk
4. Hukum Penawaran
Coba kalian perhatikan daftar penawaran jeruk Pak Heri. Pada tabel
tersebut akan terlihat bahwa apabila harga Rp4.500,00, jumlah jeruk yang
ditawarkan Pak Heri sebanyak 50 kg. Pada saat harga Rp4.750,00. Pak
Heri menawarkan jeruknya sebanyak 60 kg. Hingga pada harga Rp6.000,00,
jumlah jeruk yang ditawarkan sebanyak 110 kg. Apa yang dapat kalian
simpulkan dari tabel di atas? Berdasarkan tabel di atas dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi harga, jumlah barang yang ditawarkan
semakin banyak. Sebaliknya semakin rendah harga barang, jumlah barang
yang ditawarkan semakin sedikit. Inilah yang disebut hukum penawaran.
Hukum penawaran menunjukkan keterkaitan antara jumlah barang yang
ditawarkan dengan tingkat harga. Dengan demikian bunyi hukum penawaran
berbunyi:
Hukum penawaran akan berlaku apabila faktor-faktor lain yang memengaruhi penawaran tidak berubah (ceteris paribus).
5. Kurva Penawaran
Kurva penawaran adalah suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara
harga barang dengan jumlah barang yang ditawarkan. Coba kalian
perhatikan Tabel 17.5 mengenai daftar penawaran jeruk Pak Heri. Kurva
penawaran dapat dibuat berdasarkan tabel tersebut.
Perhatikan kurva di atas. Kurva bergerak dari kiri bawah ke kanan
atas. Dengan demikian kurva penawaran mempunyai slope positif. Artinya
jumlah barang yang ditawarkan berbanding lurus dengan harga barang.
Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan.
6. Pergeseran Kurva Penawaran
Sama halnya pada pergeseran kurva permintaan, kurva penawaran juga dapat
mengalami pergeseran karena adanya perubahan faktor-faktor yang
memengaruhi penawaran selain faktor harga. Bergesernya kurva penawaran
ditandai dengan bergeraknya kurva ke kanan atau ke kiri. Kurva penawaran
bergeser ke kiri, artinya jumlah penawarannya mengalami kenaikan.
Namun, ketika kurva penawaran barang bergeser ke kiri, berarti terjadi
penurunan penawaran barang. Misalnya diperkirakan harga jeruk bulan
depan akan naik karena harga pupuk naik. Kenaikan harga jeruk
menyebabkan penurunan penawaran jeruk. Sehingga ketika diperkirakan
harga di masa depan naik, maka penjual akan mengurangi jumlah barang
yang dijualnya. Tabel berikut ini yang akan menunjukkan jumlah jeruk
yang ditawarkan Pak Heri sebelum dan sesudah kenaikan harga.
Tabel 17.7 Daftar Jumlah Jeruk yang Ditawarkan Akibat Perubahan Kenaikan Harga
Tabel di atas jika dibuat grafik akan tampak seperti berikut ini.
Perhatikan kurva penawaran di atas. Kurva penawaran S bergeser ke
kiri menjadi S1. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penawaran akan jeruk
mengalami penurunan. Penurunan kurva penawaran jeruk tersebut sebagai
akibat dari meningkatnya harga pupuk. Jadi dapat disimpulkan bahwa
adanya perubahan dari salah satu atau lebih faktor-faktor yang dulu
dianggap tetap, akan mengubah jumlah penawaran sekaligus menggeser kurva
penawaran.
C. Harga Pasar
1. Pengertian Harga Pasar
Kalian telah mempelajari mengenai permintaan dan penawaran. Permintaan
selalu berhubungan dengan pembeli, sedangkan penawaran berhubungan
dengan penjual. Apabila antara penjual dan pembeli berinteraksi, maka
terjadilah kegiatan jual beli. Pada saat terjadi kegiatan jual beli di
pasar, antara penjual dan pembeli akan melakukan tawar-menawar untuk
mencapai kesepakatan harga. Pembeli selalu menginginkan harga yang
murah, agar dengan uang yang dimilikinya dapat memperoleh barang yang
banyak. Sebaliknya, penjual menginginkan harga tinggi, dengan harapan ia
dapat memperoleh keuntungan yang banyak. Perbedaan itulah yang dapat
menimbulkan tawar-menawar harga. Harga yang telah disepakati oleh kedua
belah pihak disebut harga pasar. Pada harga tersebut jumlah barang yang
ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta. Dengan demikian harga
pasar disebut juga harga keseimbangan (ekuilibrium).
2. Terbentuknya Harga Pasar
Faktor terpenting dalam pembentukan harga adalah kekuatan permintaan dan
penawaran. Permintaan dan penawaran akan berada dalam keseimbangan pada
harga pasar jika jumlah yang diminta sama dengan jumlah yang
ditawarkan. Untuk lebih jelasnya perhatikan Tabel 17.8 mengenai daftar
permintaan dan penawaran buah jeruk.
Tabel 17.8 Daftar Permintaan dan Penawaran Jeruk
Pada tabel di atas, harga keseimbangan terjadi pada harga Rp5.250,00.
Pada harga tersebut jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah
barang yang diminta yaitu sebesar 350 kg. Jumlah jeruk 350 kg disebut
jumlah keseimbangan. Agar kalian lebih jelas memahami harga keseimbangan
perhatikan grafik di bawah ini.
Pada kurva di atas, titik keseimbangan pasar terjadi pada titik E
(ekuilibrium), di mana pada harga Rp5.250,00, jumlah barangbarang yang
diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan yaitu sebesar 350 kg.
Harga sebesar Rp5.250,00 disebut harga keseimbangan, sedangkan jumlah
jeruk 350 kg disebut sebagai jumlah keseimbangan. Apabila pada tingkat
harga Rp6.000,00 penjual menawarkan jeruknya sebanyak 500 kg, sedangkan
pembeli hanya membutuhkan jeruk sebanyak 200 kg, apa yang akan terjadi?
Tentunya penjual akan terjadi kelebihan penawaran (surplus) sebanyak 300
kg jeruk (500 kg – 200 kg). Begitu juga pada tingkat harga Rp5.500,00
dan Rp5.750,00, penjual akan mengalami kelebihan jumlah jeruk yang
dijual.
Berbeda halnya pada saat tingkat harga Rp4.500,00, jumlah jeruk yang
ingin dibeli sebanyak 500 kg, namun penjual hanya menjual jeruknya
sebanyak 200 kg. Dengan demikian permintaan sebanyak 300 kg jeruk tidak
bisa terpenuhi oleh penjual. Apabila di pasar jumlah permintaan lebih
banyak dari pada jumlah penawaran maka akan terjadi kelebihan permintaan
atau disebut juga shortage. Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa proses terbentuknya harga pasar jika terdapat hal-hal
berikut ini.
a. Antara penjual dan pembeli terjadi tawar-menawar.
b. Adanya kesepakatan harga ketika jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan.